Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Menag Dituding Samakan Pemerintah dengan Fir’aun, Ini Pernyataan Lengkapnya

Menag Dituding Samakan Pemerintah dengan Fir’aun, Ini Pernyataan Lengkapnya Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pernyataan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar soal Nabi Musa, Nabi Harun, dan Fir’aun mendadak menjadi sorotan publik. Ucapan tersebut ramai diperbincangkan setelah beredar narasi yang menuding Menag menyamakan pemerintah dengan sosok Fir’aun.

Kontroversi itu muncul usai Nasaruddin memberikan tanggapan terkait aksi demonstrasi mahasiswa. Potongan pernyataannya kemudian beredar luas di media sosial dan memicu berbagai interpretasi.

Dalam keterangannya kepada wartawan di Makassar, Menag Nasaruddin mengingatkan agar penyampaian kritik maupun aspirasi tetap dilakukan dengan menjunjung akhlakul karimah.

Sebagai Menteri Agama, ia mengaku memiliki tanggung jawab moral untuk mengingatkan masyarakat, khususnya umat beragama, agar tidak meninggalkan etika dalam menyampaikan pendapat.

"Tentu (kita) punya kepentingan untuk mengingatkan kepada warga masyarakat, terutama umat beragama. Mari kita tetap menjunjung tinggi akhlakul karimah dalam melakukan komunikasi, ya kan?" ujarnya, dikutip dari laman resmi Kemenag, Kamis (18/6). 

Menurut Nasaruddin, tujuan yang baik tidak boleh ditempuh dengan cara yang buruk karena justru dapat menimbulkan dampak yang kontraproduktif.

Baca Juga: Heboh Menag Disebut Samakan Pemerintah dengan Fir'aun, Kemenag: Ada Kalimat yang Dipotong

Baca Juga: Setoran Awal Haji Diusul Naik, Prabowo Justru Minta Turun? Ini Kata Menhaj

"Ya, jadi jangan sampai nanti kita melakukan suatu tujuan yang baik, tapi melalui cara-cara yang kurang baik, akhirnya kontraproduktif, ya kan? Mari kita mencontoh Nabi-lah. Yang baik itu baik, yang buruk itu buruk, tapi tidak menjelekkan... sampai ada ayatnya, kan?" katanya.

Menag kemudian menyinggung kisah Nabi Musa dan Nabi Harun yang diperintahkan Allah SWT untuk berdakwah kepada Fir’aun dengan cara yang santun dan lemah lembut.

"Ya, Nabi Musa dan Nabi Harun diminta menghadap kepada Fir’aun, itu juga ditegaskan untuk menggunakan qaulan layyinan, bahasa yang santun terhadap Fir’aun. Jadi, orang seperti Fir’aun pun juga perlu diberikan bahasa santun. Apalagi kalau orang itu bukan Firaun, ya kan?" sambung Menag.

Pernyataan itulah yang kemudian menjadi polemik setelah sebagian pihak menafsirkan seolah-olah Menag tengah menyamakan pemerintah dengan Fir’aun.

Baca Juga: Alhamdulillah! Menag Jamin Insentif Rp1,5 Juta Guru Madrasah Non-ASN Cair Juni

Menutup pernyataannya, Menag Nasaruddin sesungguhnya mengajak masyarakat untuk tetap mengedepankan solusi yang menguntungkan semua pihak saat menyampaikan kritik maupun aspirasi.

"Jadi, saya pikir sebagai warga bangsa, umat beragama, dalam berbagai hal tetaplah kita mengedepankan akhlakul karimah di dalam menyampaikan gagasan. Enak kan kalau win-win solution? Jangan lose-lose solution. Inilah saya kira," pungkasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri

Tag Terkait: