Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Neraca Perdagangan RI Defisit US$1,61 Miliar pada Mei 2026

Neraca Perdagangan RI Defisit US$1,61 Miliar pada Mei 2026 Kredit Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit pada Mei 2026 sebesar US$1,61 miliar. Dengan demikian, Indonesia mengakhiri tren surplus perdagangan yang tercatat sejak Mei 2020.

"Pada Mei 2026, neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar," ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, di Kantor BPS, Jakarta, Rabu (1/7/2027/6)

Ateng mengungkapkan defisit pada Mei terjadi usah ekspor Indonesia lebih rendah dibandingkan posisi impor. Eekspor Mei 2026 tercatat mencapai US$23,20 miliar atau turun 5,73% jika dibandingkan Mei 2025 (year on year/YoY).

Nilai ekspor migas tercatat sebesar US$0,76 miliar atau turun 31,76%, sedangkan nilai ekspor nonmigas turun 4,50% dengan nilai pada Mei 2026 sebesar US$22,45 miliar.

Penurunan nilai ekspor Mei 2026 terutama didorong oleh ekspor nonmigas dari beberapa komoditas yaitu logam mulia/perhiasan (HS71) turun 59,35%, biji logam/perak (HS26) turun 99,25%, besi/baja (HS72) turun 14,68%.

Sementara nilai impor Mei 2026 mencapai US$24,81 miliar atau naik 22,16% dibandingkan Mei 2025 (year on year/yoy). Nilai impor migas Mei 2026 mencapai US$4,51 miliar atau naik 70,78% secara yoy, sedangkan nilai impor nonmigas Mei 2026 mencapai US$20,30 miliar atau naik 14,89% secara yoy.

"Defisit pada bulan Mei 2026 disebabkan terutama defisit pada komoditas migas, defisitnya sebesar US$7,63 miliar dengan penyumbang defisitnya yaitu dari hasil minyak dan minyak mentah," kata Ateng.

Neraca Dagang Januari-Mei Surplus

Adapun secara kumulatif pada periode Januari hingga Mei 2026 neraca perdagangan RI berhasil surplus. Kendati sempat dihantam defisit pada bulan Mei, total surplus neraca perdagangan tanah air masih bertengger di angka USD 4,03 miliar.

Ateng memaparkan bahwa ketahanan neraca perdagangan tersebut sangat bergantung pada performa sektor nonmigas yang berhasil menambal kebocoran dari sektor migas.

“Hingga bulan Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$4,03 miliar. Surplus sepanjang periode Januari-Mei 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas US$16,31 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$12,28 miliar,” jelas Ateng dalam jumpa pers.

Lebih rinci, BPS mencatat akumulasi nilai ekspor nasional selama lima bulan pertama di tahun 2026 menembus US$115,36 miliar. Angka ini menandakan adanya apresiasi sebesar 3,02 persen jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Baca Juga: Inflasi Juni 2026 Melonjak 3,34 Persen, Sektor Transportasi Kini Jadi Pemicu Utama

Baca Juga: BPS Pastikan Data Sensus Ekonomi 2026 Tak Dipakai untuk Pajak, Masyarakat Diminta Tak Perlu Khawatir

Motor penggerak utama pertumbuhan ini tak lain adalah ekspor nonmigas yang meraup US$110,19 miliar (tumbuh 3,89 persen). Tiga raksasa ekonomi dunia—Tiongkok, Amerika Serikat, dan India—masih menjadi pasar tradisional andalan Indonesia dengan menyerap hingga 44,20 persen dari total keseluruhan ekspor nonmigas.

Di sisi lain, pergerakan nilai impor kumulatif Januari-Mei 2026 terpantau melonjak cukup agresif hingga 15,24 persen menjadi US$111,33 miliar.

Peningkatan ini didominasi oleh masuknya barang-barang nonmigas senilai US93,88 miliar (naik 13,16 persen), sedangkan impor migas juga terkerek tajam 27,89 persen di level US$17,45 miliar.

Menariknya, jika dibedah berdasarkan golongan penggunaan barang, lonjakan impor ini didominasi oleh kebutuhan produktif. Impor bahan baku/penolong menjadi primadona dengan porsi terbesar senilai US$79,40 miliar (naik 14,41 persen), yang mengindikasikan geliat positif pada aktivitas industri manufaktur dalam negeri.

Mengikuti di belakangnya, impor barang modal tercatat sebesar US22,12 miliar (naik 17,53 persen), serta barang konsumsi sebesar US9,81 miliar (naik 17,05 persen). Tiongkok tercatat tak tergoyahkan sebagai pemasok utama barang nonmigas RI dengan nilai US$39,27 miliar (41,83 persen), jauh meninggalkan Jepang dan Australia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Dwi Aditya Putra