Inflasi Juni 2026 Melonjak 3,34 Persen, Sektor Transportasi Kini Jadi Pemicu Utama
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya lonjakan pada laju inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) Indonesia yang menyentuh angka 3,34 persen pada Juni 2026. Angka tersebut menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year on year/y on y) yang tercatat sebesar 1,87 persen.
Secara bulanan (month-to-month/m-to-m), pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan sebesar 0,44 persen, bergerak dari angka 111,40 pada Mei 2026 menjadi 111,89 pada Juni 2026. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) untuk bulan Juni 2026 kini bertengger di posisi 1,79 persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa kelompok transportasi menjadi motor penggerak utama yang mengatrol laju inflasi bulanan sepanjang Juni 2026. Kelompok ini mencatatkan tingkat inflasi sebesar 2,29 persen dengan andil mencapai 0,28 persen.
"Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok transportasi antara lain bensin, tarif angkutan udara, dan pelumas/oli mesin. Bensin memberikan andil inflasi tertinggi sebesar 0,21 persen," papar Ateng dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
"Selanjutnya, tarif angkutan udara memberikan andil inflasi 0,05 persen, sedangkan pelumas/oli mesin menyumbang 0,01 persen," sambung dia.
Apabila ditinjau berdasarkan komponennya, seluruh sektor kompak mengalami inflasi m-to-m pada Juni 2026. Sektor harga yang diatur pemerintah (administered prices) menjadi penyumbang andil tertinggi sebesar 0,27 persen dengan tingkat inflasi 1,41 persen.
Selanjutnya, komponen inti menyusul dengan andil inflasi sebesar 0,15 persen (tingkat inflasi 0,23 persen), dan komponen bergejolak (volatile foods) memberikan kontribusi andil sebesar 0,02 persen (tingkat inflasi 0,14 persen).
Secara geografis, tren kenaikan harga secara bulanan ini melanda seluruh provinsi di tanah air. Provinsi Maluku Utara menempati urutan teratas dengan lonjakan inflasi tertinggi mencapai 2,45 persen. Sebaliknya, wilayah Sumatera Utara dan Kalimantan Tengah mencatatkan inflasi terendah yang masing-masing berada di angka 0,23 persen.
Baca Juga: BPS Pastikan Data Sensus Ekonomi 2026 Tak Dipakai untuk Pajak, Masyarakat Diminta Tak Perlu Khawatir
Baca Juga: IHSG Rebound ke 5.659 Jelang Rilis Data Inflasi dan Perdagangan RI
Sebelumnya, Keputusan mengenai penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi untuk periode Juli 2026 mulai menemui titik terang.
Pemerintah dan PT Pertamina (Persero) tengah mengkaji peluang penurunan harga menyusul tren merosotnya harga minyak mentah (crude) dunia dalam beberapa waktu terakhir.
Meski demikian, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, belum memberikan kepastian kapan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan produk sejenis akan diturunkan. Ia meminta masyarakat menunggu keputusan resmi pemerintah.
"Kita lihat saja nanti. Teman-teman media juga harus fair dong. Pada saat harga minyak lagi naik, dua bulan lebih hampir tiga bulan kan tidak kita naikkan. Masa baru naik dua minggu atau tiga minggu teman-teman sudah tanya itu? Kenapa waktu kemarin kok tidak tanya (kenapa) tidak diturunkan?" ujar Bahlil saat ditemui di Jakarta, Senin (29/6/2026).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: