Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bisnis Oleh-Oleh Haji Ikut Terbang Tinggi: Tren dan Peluang di Tahun 2026

Bisnis Oleh-Oleh Haji Ikut Terbang Tinggi: Tren dan Peluang di Tahun 2026 Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Di Bandara Jeddah, seorang jemaah asal Soppeng bernama Kulasse jadi pusat perhatian. Bukan karena membawa koper besar, tapi karena lima sampai enam boneka unta dikalungkan di lehernya, seperti untaian raksasa. Kopernya sudah penuh, tapi ia tetap teguh memenuhi janji ke enam cucunya di rumah.

Cerita kecil ini menggambarkan sesuatu yang lebih besar. Bisnis oleh-oleh haji sedang naik daun, seiring dengan makin gemuknya industri travel haji dan umroh Indonesia. Kalau kamu sedang melirik peluang di sektor ini, atau sekadar penasaran kenapa toko oleh-oleh di Tanah Abang dan sekitar Asrama Haji selalu ramai, artikel ini merangkum tren-tren yang lagi terjadi di tahun 2026.

Pasar yang Makin Gemuk

Bisnis oleh-oleh haji tidak berdiri sendiri. Ia menempel pada industri haji dan umroh yang terus tumbuh dari tahun ke tahun. Beberapa angka ini bisa jadi gambaran skalanya.

  • Jumlah jemaah umroh Indonesia mencapai 1,467 juta pada 2024, naik dari 1,37 juta di 2023 dan 1,01 juta di 2022.
  • Data Siskopatuh 2025 mencatat 1,6 juta jemaah umroh dari seluruh Indonesia.
  • Perputaran uang di ekosistem haji dan umroh diproyeksikan melonjak dari Rp65 triliun pada 2023 menjadi Rp194 triliun pada 2030.
  • Khusus musim haji 2026, biaya penyelenggaraan sekitar Rp18,2 triliun, dan pemerintah berharap ini menghasilkan efek ganda ekonomi yang jauh lebih besar bagi pelaku UMKM di dalam negeri.

Dengan jumlah jemaah yang terus bertambah, otomatis permintaan oleh-oleh pun ikut naik. Setiap jemaah biasanya tidak cuma belanja untuk diri sendiri, tapi juga untuk keluarga besar, tetangga, sampai teman kantor. Jadi satu orang jemaah bisa jadi sumber permintaan buat puluhan bungkus oleh-oleh sekaligus.

Bukan Cuma Kurma dan Zamzam

Kalau dulu isi koper jemaah haji didominasi oleh oleh haji semacam kurma, air zamzam, dan perlengkapan ibadah, musim haji 2026 punya kejutan tersendiri. Boneka unta naik tahta jadi oleh-oleh paling diburu, terutama buat anak dan cucu di rumah.

Harganya bervariasi. Di Pasar Kakiyah Makkah, boneka ini dijual sekitar 10 sampai 30 Riyal Saudi. Kalau beli di stan Asrama Haji, harganya sedikit lebih mahal, sekitar Rp150.000 untuk ukuran sedang dan Rp450.000 untuk ukuran jumbo. Bahkan ada versi premium yang dilengkapi suara talbiyah dan lampu LED. Produk ini juga sudah merambah e-commerce, dengan harga mulai Rp6.500 untuk model gantungan kunci.

Meski begitu, lima produk klasik ini tetap jadi tulang punggung bisnis oleh-oleh haji, dan sering disebut sebagai "oleh-oleh sejuta umat" karena hampir semua jemaah pasti membawanya pulang.

Produk

Asal

Kisaran Harga

Air zamzam

Makkah dan Madinah

Termasuk jatah resmi 5 liter per jemaah

Kurma (Ajwa, Sukkari, dll)

Arab Saudi

Rp35.000 - Rp260.000/kg

Kacang Arab (hummus/chickpea)

Arab Saudi, Yaman, Mesir

Rp30.000 - Rp60.000/kg

Kismis

India, Iran, Afghanistan

Mulai Rp74.000/kg

Coklat kerikil

Mesir, Turki

Bervariasi, biasa dijual kiloan

Kelima produk ini sering dijual satu paket dalam bentuk hampers atau dus oleh-oleh. Jadi bisnisnya bukan cuma jualan eceran, tapi juga soal bundling dan pengemasan yang menarik.

Kirim Duluan, Fokus Ibadah

Ada perubahan perilaku menarik di musim haji 2026. Banyak jemaah mulai memanfaatkan jasa kargo untuk mengirim oleh-oleh dari Madinah ke Indonesia, alih-alih menumpuknya di koper sampai pulang.

Alasannya cukup praktis. Jemaah ingin menghindari kelebihan bagasi saat kepulangan, sekaligus tidak mau lagi mikirin urusan belanja begitu tiba di Makkah. Salah satu jemaah asal Pinrang bahkan mengalokasikan sekitar Rp9 juta khusus untuk oleh-oleh, dan memilih mengirimnya lebih awal supaya bisa fokus penuh beribadah.

Pos Indonesia menangkap peluang ini dengan menyediakan layanan kargo khusus haji, yang sudah memasuki tahun ketiga penyelenggaraan. Estimasi pengirimannya sekitar 7 sampai 14 hari ke seluruh Indonesia. Ini jadi kabar baik buat pelaku usaha logistik dan ekspedisi, karena mereka ikut kecipratan berkah dari ekosistem bisnis haji.

Belanja Oleh-Oleh Kini Tinggal Klik

Digitalisasi juga merambah bisnis ini. Pemerintah sedang memperkuat ekosistem ekonomi haji berbasis digital lewat platform oleh-oleh haji, yang dirancang untuk mempermudah transaksi produk Indonesia sekaligus melindungi jemaah dari praktik penipuan.

Tren ini sejalan dengan pola belanja oleh-oleh secara umum di Indonesia. Media sosial seperti TikTok dan Instagram mendorong pelaku usaha menciptakan produk yang mudah viral, dengan kemasan yang fotogenik dan storytelling yang kuat. Pembeli, khususnya anak muda, sekarang tidak cuma cari rasa, tapi juga pengalaman dan nilai estetika dari sebuah produk oleh-oleh.

UMKM dan Ekspor: Arus Balik yang Menggiurkan

Menariknya, bisnis oleh-oleh haji tidak cuma soal barang yang dibawa pulang dari Arab Saudi. Ada juga arus sebaliknya, yaitu produk Indonesia yang justru diekspor ke sana.

Indikator awal menunjukkan peningkatan aktivitas UMKM dan ekspor produk kebutuhan jemaah, termasuk pertumbuhan ekspor bumbu-bumbu dari Indonesia. Contoh konkretnya, Bulog mengekspor 2.280 ton beras premium senilai Rp150 miliar untuk kebutuhan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. Ini jadi ekspor perdana yang membuka jalan buat ekspor beras umroh berikutnya, mengingat jumlah WNI dan jemaah umroh di sana mencapai sekitar 2 juta orang per tahun.

Buat pelaku UMKM di dalam negeri, ini artinya peluangnya dua arah. Bisa jualan oleh-oleh khas Arab ke jemaah yang pulang, atau justru masuk ke rantai pasok produk Indonesia yang dikirim ke Arab Saudi.

Tantangan: Dolar Tembus Rp18.000, Harga Ikut Terguncang

Di balik peluang yang menggiurkan, ada tantangan nyata yang perlu diwaspadai pelaku usaha. Awal Juni 2026, rupiah sempat menyentuh level Rp18.029 sampai Rp18.050 per dolar AS, rekor terlemah sepanjang sejarah, sebelum sedikit menguat lagi ke kisaran Rp17.100 sampai Rp17.900 di akhir bulan yang sama.

Pelemahan ini langsung terasa di toko-toko oleh-oleh haji, terutama di kawasan Tanah Abang, karena produk seperti kurma dan pistachio sangat bergantung pada impor dari Timur Tengah. Ditambah ketegangan geopolitik di kawasan tersebut yang mengganggu rantai pasok, harga souvenir haji naik sekitar 15 persen secara umum, dengan bahan baku seperti kurma dan pistachio melonjak 30 sampai 40 persen.

Beberapa contoh kenaikan harga yang terjadi:

Produk

Harga Sebelumnya

Harga Sesudah Naik

Kurma Sukari dan Mesir

Sekitar Rp30.000/kg

Sekitar Rp80.000/kg

Pistachio

Sekitar Rp250.000/kg

Rp300.000 - Rp350.000/kg

Kemasan (kardus, plastik)

-

Naik hingga 40 persen

Padahal, pembeli tetap menuntut kemasan yang rapi dan representatif, jadi pedagang tidak bisa asal menghemat di sisi packaging.

Ada sisi positif yang bisa dilirik pelaku UMKM lokal di tengah gejolak ini. Produk non-impor seperti sajadah motif lokal dan tasbih kayu harganya relatif stabil karena tidak bergantung pada dolar. Ini bisa jadi alternatif oleh-oleh yang lebih tahan terhadap fluktuasi kurs, sekaligus kesempatan buat produk lokal mengambil porsi pasar yang lebih besar.

Tiga Toko yang Bisa Jadi Inspirasi

Kalau kamu penasaran seperti apa pelaku usaha yang sudah lebih dulu sukses di bisnis ini, 3 toko oleh oleh haji terdekat berikut bisa jadi referensi:

Toko Hamidah di Yogyakarta memulai usahanya dari bisnis kurma online rumahan sejak 2014, sebelum akhirnya membuka toko fisik di tengah kota Jogja pada 2023. Toko ini unggul di desain hampers dan paket oleh-oleh kekinian, dengan harga bersaing berkat dukungan langsung dari importir besar di Jakarta dan Surabaya.

Dunia Haji di Tanah Abang, Jakarta Pusat, berlokasi di kawasan yang dikenal sebagai pusat grosir terbesar se-Asia Tenggara. Toko ini menawarkan kurma premium seperti Ajwa, Sukari, dan Medjool, dengan produk kurma dan zamzam yang sudah punya izin edar resmi dari Kementerian Pertanian.

Lawang Agung di Surabaya adalah yang paling senior, sudah berdiri sejak tahun 1957. Kini punya lima outlet yang tersebar di Surabaya, Sidoarjo, Malang, dan Gresik, dan dikenal sebagai pusat kurma terlengkap di Jawa Timur dengan puluhan hingga ratusan varian kurma.

Ketiganya menunjukkan tiga model bisnis berbeda yang sama-sama berhasil. Ada yang mengandalkan branding kekinian, ada yang mengandalkan skala grosir, dan ada yang mengandalkan kepercayaan yang dibangun puluhan tahun. Pelajaran ini bisa jadi bekal buat siapa pun yang mau mulai usaha serupa.

Jangan Lupa, Berbagi Boleh, Berlebihan Jangan

Di tengah geliat bisnisnya, ada baiknya diingat kembali makna asli dari tradisi ini. Dalam Islam, memberi hadiah termasuk amalan yang dianjurkan, karena bisa mempererat hubungan antar sesama. Tapi Islam juga mengingatkan agar tidak berlebihan dalam berbelanja.

Aturan bagasi resmi pun jadi pengingat praktis soal ini, dengan koper bagasi maksimal 32 kg dan koper kabin 7 kg. Bukan kebetulan kalau banyak jemaah kini memilih kirim kargo atau beli oleh-oleh sepulang di tanah air saja, supaya bisa tetap fokus beribadah tanpa harus terbebani urusan belanja berlebihan di Tanah Suci.

Peluang yang Masih Terbuka Lebar

Bisnis oleh-oleh haji jelas bukan sekadar tren musiman. Ia menempel erat pada industri haji dan umroh yang terus tumbuh, dan ikut bergerak seiring perubahan selera konsumen, perkembangan teknologi, sampai gejolak ekonomi global.

Buat pelaku UMKM, pemilik toko, atau siapa pun yang tertarik masuk ke sektor ini, peluangnya masih terbuka lebar. Baik lewat inovasi produk seperti boneka unta yang viral, lewat digitalisasi transaksi, lewat rantai pasok ekspor produk lokal, maupun lewat diferensiasi produk lokal yang lebih tahan gejolak kurs. Yang jelas, selama jutaan jemaah terus berangkat ke Tanah Suci setiap tahun, oleh-oleh haji akan selalu punya tempat di hati keluarga yang menunggu di rumah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: