- Home
- /
- EkBis
- /
- Agribisnis
Antisipasi El Nino 2026, Kementan Genjot Pompanisasi demi Jaga Produksi Pangan Nasional
Kredit Foto: Antara/Mohammad Ayudha
Kementerian Pertanian mempercepat pelaksanaan program gerakan pompanisasi di berbagai daerah pertanian Indonesia. Langkah strategis ini diambil sebagai mitigasi utama dalam menghadapi potensi fenomena alam El Nino pada tahun 2026 menurut prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menjelaskan pemerintah berupaya keras mengamankan stabilitas sektor pasokan pangan dari ancaman kekeringan ekstrem. Upaya antisipasi sejak dini ini difokuskan untuk membantu para petani lokal agar tetap dapat turun menanam.
"Kita harus bergerak sebelum kekeringan meluas. Jangan sampai petani kehilangan musim tanam. Karena itu kami mempercepat berbagai langkah mitigasi, salah satunya melalui gerakan pompanisasi agar air tetap tersedia dan produksi pangan tetap aman," kata Mentan Amran dalam keterangan resmi Kementan, Jumat (3/7/2026).
BMKG memproyeksikan intensitas fenomena El Nino tahun ini akan berada pada kategori tingkat lemah hingga moderat. Kendati diprediksi tidak terlalu parah, pemerintah tetap memilih untuk bergerak aktif sebelum dampak kekeringan meluas.
"Kita tidak boleh menunggu krisis terjadi. Prinsip kita adalah mitigasi dari hulu. Air harus tersedia, irigasi harus berfungsi, dan petani harus tetap bisa menanam. Dengan cara itu, produksi pangan nasional tetap terjaga meskipun menghadapi tantangan iklim," ujarnya.
Lebih lanjut, Amran mengungkapkan strategi mitigasi perubahan iklim menjadi semakin penting mengingat pemerintah tengah mempercepat pencapaian swasembada pangan. Pompanisasi, sambung Amran, menjadi salah satu strategi adaptasi perubahan iklim yang dijalankan Kementan untuk memastikan sumber air tetap dapat dimanfaatkan ketika curah hujan menurun.
“Melalui pompa air, lahan yang berpotensi mengalami kekeringan tetap dapat diairi sehingga petani tidak kehilangan kesempatan tanam,” ungkap Amran.
Manajemen kementerian juga mempercepat agenda pembenahan irigasi tersier serta program optimalisasi pemanfaatan lahan rawa. Kerja sama yang padu dari seluruh elemen dinilai menjadi kunci utama keberhasilan target swasembada berkelanjutan.
Baca Juga: Meski El Nino Mengintai, Amran Yakin RI Tak Kekurangan Beras: Stok Tertinggi dalam Sejarah
Baca Juga: El Nino dan Geopolitik Ancam Ketahanan Pangan RI, INDEF Minta Pemerintah Lakukan Antisipasi
Diketahui sebelumnya, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memperingatkan fenomena El Nino yang berpotensi terjadi pada 2026 dapat menekan produksi pangan nasional sekaligus memperburuk gejolak harga pangan di berbagai daerah.
Dalam kajiannya, INDEF menilai ketahanan pangan Indonesia menghadapi tekanan dari perubahan iklim, gangguan rantai pasok, konflik geopolitik, serta kenaikan harga energi yang berdampak pada stabilitas pasokan dan harga pangan.
Direktur Program INDEF Eisha M. Rachbini mengatakan volatilitas harga pangan dalam beberapa tahun terakhir cenderung tinggi akibat semakin besarnya pengaruh perubahan iklim terhadap sektor pertanian.
"Volatilitas harga pangan cenderung sangat tinggi dalam beberapa tahun belakangan ini. Mengapa? Karena perubahan iklim yang mengakibatkan fluktuasi harga pangan saat ini sangat tinggi. Selain itu, adanya gangguan rantai pasok, konflik geopolitik, serta kenaikan harga energi," kata Eisha dalam acara INDEF, Kamis (25/6/2026).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: