Kredit Foto: Dokumentasi Kementerian Pertanian
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman belum mau menghitung ketersediaan singkong nasional jika teknologi berbahan tepung singkong nantinya digunakan untuk membantu menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurut Amran, pemerintah perlu menunggu hasil pengujian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebelum membahas kebutuhan bahan baku teknologi tersebut.
"Oh, biarlah dulu BRIN uji coba. Baguslah kalau ada penemuan baru," kata Amran di Karawang, Jawa Barat, Senin (31/8/2026).
Amran menilai pengujian menjadi tahap penting untuk mengetahui apakah teknologi tersebut benar-benar efektif ketika diterapkan untuk menangani karhutla. Karena itu, pembahasan mengenai kecukupan pasokan singkong dinilai belum perlu dilakukan sebelum hasil uji coba keluar.
"Biarlah dulu diuji coba. Semakin tinggi teknologi kita semakin bagus, kan. Tapi biarlah diuji coba, kalau itu berhasil sangat bagus," ujarnya.
Sikap tersebut menunjukkan pemerintah belum menganggap teknologi berbahan tepung singkong siap digunakan secara luas. Terlebih, skala karhutla di lapangan jauh lebih besar dibandingkan pengujian yang selama ini dilakukan.
Kepala BRIN Arif Satria sebelumnya menjelaskan bahwa pemanfaatan tepung singkong untuk membantu pemadaman karhutla memang memungkinkan secara teoritik. Namun, hasil kajian tersebut belum menjadi bukti bahwa teknologi itu sudah efektif untuk digunakan dalam penanganan kebakaran berskala besar.
BRIN bersama Polri masih melakukan kajian dan uji coba untuk mengetahui efektivitas material tersebut sekaligus mencari metode penerapan yang paling tepat. Salah satu tantangan yang harus dijawab adalah bagaimana bahan tersebut dapat digunakan pada area kebakaran yang luas.
"Untuk skala besar kan kemudian dari sisi campuran-campuran zatnya maupun dari sisi bagaimana teknik untuk memadamkannya seperti apa. Kan tidak mungkin ditaburi pakai tangan, harus pakai alat-alat tertentu dan sekarang sedang dikaji," kata Arif.
Persoalan tersebut membuat pemerintah belum dapat memastikan berapa banyak singkong yang nantinya dibutuhkan jika teknologi itu benar-benar diterapkan. Kebutuhan bahan baku baru dapat dihitung setelah efektivitas dan metode penggunaannya diketahui.
Meski masih menunggu hasil penelitian, Amran menilai kebutuhan singkong dalam jumlah besar tidak otomatis menjadi persoalan bagi sektor pertanian. Ia meyakini petani akan meningkatkan produksi apabila permintaan terhadap komoditas tersebut meningkat dan memberikan keuntungan.
"Petani sederhana, kalau demand-nya tinggi menguntungkan, berproduksi. Petani Indonesia hebat-hebat," kata Amran.
Amran menggunakan pengalaman program biodiesel sebagai contoh bahwa peningkatan permintaan bahan baku dapat mendorong petani meningkatkan produktivitas. Ia mengatakan kekhawatiran terhadap ketersediaan minyak sawit mentah ketika kebutuhan biodiesel meningkat akhirnya tidak terbukti.
"Dulu sewaktu B40 menuju B50 dikatakan bahwa ekspor CPO kita turun. Yang terjadi naik kan? Karena demand-nya tinggi, harga naik, petani memupuk tepat waktu, menjaga, mengairi, hamanya dijaga," ujarnya.
Baca Juga: Analogi Filipina: Pengamat Sebut Prabowo Bisa 'Singkirkan' Gibran Seperti Marcos ke Duterte
Menurut Amran, pola serupa juga terlihat pada komoditas telur ayam. Produksi yang sempat dikhawatirkan tidak mencukupi kebutuhan justru meningkat hingga akhirnya terjadi surplus.
Di sisi lain, pengembangan teknologi tepung singkong untuk karhutla masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut. BRIN menyatakan material tersebut belum siap diproduksi maupun diterapkan secara luas karena pengujian skala besar masih berlangsung.
Sebelumnya, penggunaan bahan berbasis pati singkong untuk membantu menangani karhutla juga telah diuji di Kalimantan Selatan. Material tersebut berupa cairan yang dicampur dengan amonium polifosfat, air, dan zat pembasah untuk membantu menghambat perambatan api.
Presiden Prabowo Subianto telah mendorong agar teknologi tersebut diuji dalam skala lebih besar. Namun, sebelum sampai pada tahap implementasi, efektivitas teknologi dan kesiapan metode penerapannya masih menjadi pekerjaan BRIN bersama pihak terkait.
Pemerintah belum berada pada tahap menghitung kebutuhan singkong untuk program pemadaman karhutla. Fokus saat ini masih memastikan apakah teknologi tersebut benar-benar mampu bekerja secara efektif di lapangan sebelum dikembangkan dalam skala yang lebih luas.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama