Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Asing Jual Saham Rp19,63 Triliun, Tapi Borong SBN Rp22,43 Triliun

Asing Jual Saham Rp19,63 Triliun, Tapi Borong SBN Rp22,43 Triliun Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Investor asing membukukan penjualan bersih saham senilai Rp19,63 triliun sepanjang Juni 2026, ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 7,9% secara bulanan ke level 5.643,19. Pada saat bersamaan, investor asing justru mencatat pembelian bersih surat berharga negara (SBN) sebesar Rp22,43 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi mengatakan pergerakan tersebut terjadi ketika pasar saham domestik berada dalam fase konsolidasi akibat ketidakpastian global, persepsi investor terhadap kondisi dan kebijakan domestik, serta penyesuaian portofolio investor.

“Pasar saham domestik pada Juni 2026 masih berada pada fase konsolidasi. Hal ini dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global, persepsi investor atas kondisi dan kebijakan domestik serta adanya penyesuaian atau rebalancing portfolio investor,” ujar Hasan, dalam Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB Juni 2026, Jakarta, Selasa (7/7/2026). 

Ia mengungkap, IHSG ditutup pada level 5.643,19 pada akhir Juni 2026, atau terkoreksi 7,9% secara bulanan dan 34,74% sejak awal tahun. Hasan mengatakan tekanan di pasar mulai mereda pada awal Juli 2026, sementara resiliensi dan likuiditas pasar modal domestik tetap terjaga.

Rata-rata nilai transaksi harian saham pada Juni tercatat Rp22,23 triliun, turun dari Rp22,86 triliun pada Mei 2026. Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup di level 429,85 atau terkoreksi 1,69% secara bulanan.

Di tengah koreksi indeks obligasi, pembelian bersih asing di pasar SBN menunjukkan minat investor luar negeri terhadap instrumen utang pemerintah tetap positif. Arus dana tersebut berlawanan dengan aksi jual asing di pasar saham selama Juni.

Tekanan pasar juga tercermin pada industri reksa dana. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana turun 4,79% secara bulanan menjadi Rp652,9 triliun pada Juni 2026. Industri tersebut mencatat penjualan bersih atau net redemption Rp23,75 triliun selama Juni, sedangkan secara tahun berjalan net redemption tercatat Rp2,14 triliun.

"Meski pasar saham melemah, jumlah investor pasar modal bertambah 1,21 juta pada Juni 2026. Total investor pasar modal mencapai 28,96 juta, tumbuh 42,22% sejak awal tahun," jelas Hasan.

Dari sisi pembiayaan, nilai penghimpunan dana korporasi di pasar modal mencapai Rp112,67 triliun sepanjang semester I-2026. OJK mencatat masih terdapat 11 rencana penawaran umum dalam antrean atau pipeline.

Baca Juga: Investor Asing Kembali Borong Saham Rp287,84 Miliar di Akhir Pekan

Baca Juga: Prabowo Tegaskan Tak Akan Usir Investor Asing

Hasan mengatakan OJK melanjutkan koordinasi dengan lembaga penyelenggara pasar dan pemangku kepentingan untuk memastikan perdagangan, manajemen risiko, serta penyelesaian transaksi tetap berjalan baik. OJK menilai kebijakan stabilisasi pasar yang berlaku masih relevan dan efektif untuk menjaga stabilitas serta kepercayaan pasar.

Pada Juni 2026, MSCI mempertahankan status Indonesia dalam kategori Emerging Markets. Dalam Global Market Accessibility Review, sebanyak 16 dari 18 kriteria penilaian Indonesia memperoleh status no issues atau no major issues. OJK menyatakan akan menindaklanjuti dua kriteria yang masih memerlukan perbaikan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri