Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Industri Otomotif Thailand Terancam Kolaps Akibat Banjir EV Cina, Insentif Pajak Segera Berakhir

Industri Otomotif Thailand Terancam Kolaps Akibat Banjir EV Cina, Insentif Pajak Segera Berakhir Kredit Foto: BP
Warta Ekonomi, Jakarta -

Industri otomotif Thailand menghadapi tantangan besar menjelang berakhirnya kebijakan insentif kendaraan listrik (electric vehicle/EV) EV3.5 pada 2027.

Pelaku industri khawatir penghentian insentif tersebut akan memicu lonjakan impor mobil listrik asal China yang berpotensi melemahkan industri otomotif nasional dan rantai pasok komponen lokal.

Selama ini, program EV3.5 dinilai berhasil menarik investasi produsen kendaraan listrik melalui pemberian insentif pajak dan subsidi bagi perusahaan yang membangun fasilitas produksi Battery Electric Vehicle (BEV) di Thailand.

Ketua Klub Industri Otomotif di bawah Federasi Industri Thailand (FTI), Suwat Supakandechakul, mengatakan berakhirnya insentif dapat mendorong produsen asal China mengurangi produksi lokal dan beralih mengimpor kendaraan secara utuh.

Menurutnya, langkah tersebut dimungkinkan karena adanya fasilitas tarif impor 0 persen dalam skema Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China (ASEAN-China Free Trade Area/ACFTA).

"Lonjakan EV impor dapat memukul mundur produksi mobil Thailand dan memaksa produsen lokal masuk ke jurang krisis. Produsen suku cadang lokal juga akan menerima dampak terburuk karena kehilangan pesanan," ujar Suwat disitat dari Bangkok Post.

Menghadapi potensi tersebut, Asosiasi EV Thailand bersama sembilan asosiasi industri lainnya meminta pemerintah segera menerapkan kebijakan baru untuk memperkuat industri dalam negeri.

Beberapa usulan yang diajukan meliputi:

  • Peningkatan kewajiban penggunaan komponen lokal (TKDN) bagi produsen kendaraan listrik.
  • Penyesuaian tarif pajak penjualan agar terdapat perbedaan harga yang lebih kompetitif antara EV impor dan EV yang dirakit di Thailand.

Saat ini, Dewan Investasi Thailand (BOI) menetapkan kandungan komponen lokal minimal 40 persen untuk BEV dan 45 persen untuk kendaraan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV).

Pelaku industri menilai persentase tersebut perlu ditingkatkan agar Thailand tetap mampu mempertahankan posisinya sebagai pusat industri otomotif di Asia Tenggara.

Di sisi lain, rencana pemerintah meluncurkan program tukar tambah (trade-in) kendaraan lama ke mobil listrik dikabarkan menghadapi berbagai kendala teknis, mulai dari penentuan usia kendaraan, mekanisme penilaian harga, hingga pengelolaan kendaraan bekas.

Di tengah kekhawatiran industri, produsen otomotif asal China, Changan Auto, menegaskan komitmennya untuk terus berinvestasi di Thailand.

Wakil Presiden Changan Auto Sales Thailand, Chris Wu, mengatakan pihaknya mendukung upaya peningkatan penggunaan komponen lokal dan melihat kebijakan tersebut sebagai peluang untuk memperkuat industri.

"Changan menghormati peran penting asosiasi lokal dalam menjaga warisan industri Thailand. Kami siap bertransisi menuju lokalisasi yang sesungguhnya," kata Chris Wu.

Changan telah menanamkan investasi sekitar 10 miliar baht di fasilitas produksinya di Rayong. Perusahaan menargetkan penggunaan komponen lokal mencapai 70 persen pada 2027 dan meningkat menjadi 80 persen pada 2030. Pabrik tersebut juga telah mengekspor kendaraan setir kanan ke berbagai negara, termasuk Inggris.

Prospek Industri Otomotif Thailand pada 2026

Federasi Industri Thailand tetap bersikap hati-hati dalam memproyeksikan kinerja industri otomotif. Organisasi tersebut menargetkan produksi kendaraan mencapai 1,5 juta unit pada 2026, terdiri atas 950.000 unit untuk ekspor dan 550.000 unit bagi pasar domestik.

Target tersebut masih jauh di bawah capaian puncak industri otomotif Thailand yang pernah memproduksi sekitar 2,4 juta unit kendaraan per tahun.

Juru Bicara Klub Otomotif FTI, Surapong Paisitpatanapong, mengatakan prospek ekspor masih dibayangi ketidakpastian akibat kondisi geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah.

Sementara itu, pasar domestik juga menghadapi tekanan akibat melemahnya penjualan mobil pikap yang selama ini menjadi tulang punggung industri otomotif Thailand.

FTI berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk mendukung segmen tersebut demi menjaga keberlangsungan lebih dari 1.500 pemasok komponen lokal.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait: