Kredit Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden
Hubungan politik Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) kembali menjadi sorotan setelah muncul sejumlah sinyal yang dinilai menunjukkan adanya perbedaan arah politik di antara keduanya.
Perbincangan tersebut menguat seiring sejumlah pernyataan Prabowo yang secara terbuka mengungkapkan keterkejutannya terhadap kondisi tata kelola negara setelah menjabat sebagai presiden. Dalam beberapa kesempatan, Prabowo menyebut menemukan berbagai persoalan serius, mulai dari kebocoran kekayaan negara hingga praktik pengelolaan sumber daya alam yang dinilai merugikan Indonesia.
Prabowo juga mengaku telah mengetahui sejak dekade 1990-an bahwa Indonesia berada di jalur yang keliru. Namun, menurutnya, kondisi yang ia temukan setelah memimpin pemerintahan jauh lebih berat daripada yang diperkirakan.
Pernyataan tersebut memunculkan spekulasi bahwa pemerintahan Prabowo akan mengambil arah kebijakan yang berbeda dari pemerintahan sebelumnya, termasuk dalam upaya melakukan pembenahan terhadap berbagai persoalan yang disebutnya sebagai "kerusakan" di dalam sistem.
Di sisi lain, Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi sebelumnya menyatakan bahwa Prabowo lebih berorientasi pada warisan kebijakan jangka panjang dibandingkan sekadar memikirkan siklus pemilu. Pernyataan itu kemudian ditafsirkan sebagian kalangan sebagai gambaran bahwa fokus pemerintahan Prabowo berbeda dengan kepentingan politik jangka pendek.
Spekulasi mengenai merenggangnya hubungan politik Jokowi dan Prabowo juga muncul setelah sejumlah pengamat mengaitkannya dengan dinamika posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Dalam rapat kabinet terbaru, Gibran terlihat duduk bersama jajaran menteri koordinator, bukan di samping Presiden Prabowo saat penyampaian arahan. Meski tidak ada aturan yang mengharuskan posisi tertentu dalam rapat kabinet, perubahan tata letak tersebut memicu berbagai tafsir politik di ruang publik.
Baca Juga: Hotman Bahas Rp430 T dan Kehormatan Prabowo, Presiden Bahas Gaji Guru
Selain itu, pernyataan Jokowi yang beberapa kali menyampaikan harapan agar pasangan Prabowo-Gibran dapat melanjutkan kepemimpinan selama dua periode juga dinilai sebagian pihak berpotensi menimbulkan beban politik, baik bagi Prabowo maupun Gibran.
Pandangan tersebut muncul karena Prabowo dinilai tengah membangun identitas kepemimpinannya sendiri, terpisah dari narasi bahwa kemenangan pada Pemilu 2024 semata-mata merupakan hasil dukungan Jokowi atau kontribusi Gibran.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: