Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren penguatan dengan mencatat reli selama sembilan hari perdagangan berturut-turut. Pada penutupan perdagangan Selasa (21/7/2026), IHSG melonjak 1,74% atau 108,24 poin ke level 6.340,02, sekaligus menembus level psikologis 6.300.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sepanjang perdagangan IHSG bergerak di rentang 6.247,35 hingga 6.340,02. Penguatan tersebut didukung tingginya aktivitas transaksi di pasar.
Volume perdagangan mencapai 51,06 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp21,50 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 2,94 juta kali transaksi. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 439 saham menguat, 221 saham melemah, dan 305 saham stagnan.
Penguatan IHSG kali ini ditopang oleh reli sejumlah saham yang tergabung dalam Grup Happy Hapsoro. Selain itu, saham-saham milik Grup Barito yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu serta emiten Grup Salim juga turut menjadi kontributor utama kenaikan indeks.
Sebaliknya, tekanan terhadap IHSG berasal dari pelemahan sejumlah saham yang berada dalam kelompok usaha Garibaldi "Boy" Thohir.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas menilai tren penguatan IHSG masih terjaga. Pada perdagangan sebelumnya, indeks berhasil ditutup di atas moving average (MA) 50 dengan dukungan peningkatan volume pembelian. Selain itu, histogram positif pada indikator moving average convergence divergence (MACD) juga terus melebar, menandakan momentum penguatan masih berlangsung.
Meski demikian, indikator stochastic RSI telah memasuki area overbought, yang mengindikasikan peluang terjadinya aksi ambil untung (profit taking) dalam jangka pendek.
"Kondisi tersebut membuka peluang bagi indeks untuk menguji area resistance di kisaran 6.250–6.300, meski investor tetap disarankan mewaspadai potensi koreksi jangka pendek akibat aksi profit taking," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Dari sisi fundamental, sentimen domestik masih relatif positif. Hasil Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) menunjukkan penyaluran kredit baru pada kuartal II-2026 tumbuh signifikan dengan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 93,08%, meningkat dari 38,74% pada kuartal sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan seluruh jenis kredit. Kredit modal kerja mencatat SBT sebesar 94,34%, kredit investasi 93,51%, dan kredit konsumsi 83,67%. Meski perbankan menerapkan standar penyaluran kredit yang lebih selektif, meningkatnya permintaan pembiayaan dinilai mencerminkan aktivitas ekonomi domestik yang masih ekspansif.
Baca Juga: Investor Asing Kembali Masuk, Prospek IHSG Makin Cerah
Baca Juga: IHSG Terus Melesat, Tembus ke Level 6.273
Pasar juga mendapat sentimen positif setelah S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level investment grade BBB dengan prospek stabil. Keputusan tersebut memperkuat optimisme terhadap fundamental ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Di sisi lain, Phintraco Sekuritas mengingatkan investor untuk tetap mencermati risiko eksternal, terutama perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak dunia. Jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta memperkuat dolar Amerika Serikat, yang dapat menekan pasar keuangan global, termasuk Indonesia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Annisa Nurfitri