Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

HRS Senayan Sudah Siap, Bos PLN: Mobil Hidrogennya Belum Ada

HRS Senayan Sudah Siap, Bos PLN: Mobil Hidrogennya Belum Ada Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan

Bahlil meyakini daya saing hidrogen akan meningkat seiring ketidakpastian geopolitik, berlanjutnya konflik di sejumlah negara, dan semakin sulitnya menemukan cadangan minyak baru.

“Tetapi keyakinan saya, dengan perang terus terjadi, dengan geopolitik yang tidak menentu, dan tidak lagi gampang untuk kita mendapatkan minyak di blok-blok yang baru, maka tidak akan lama lagi harga hidrogen akan jauh lebih kompetitif dengan sumber-sumber BBM minyak lainnya,” ujarnya.

Menurut Bahlil, pengembangan hidrogen merupakan bagian penting dari upaya Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Namun, pengembangannya tetap membutuhkan teknologi yang lebih efisien agar dapat digunakan secara luas.

“Memang tidak ada sesuatu yang gampang. Sesuatu yang baru itu pasti butuh tantangan. Tapi kalau kita sudah mampu menemukan teknologi yang lebih efisien, saya yakin ini akan lari,” katanya.

“Bangsa kita, negara kita, atas arahan Bapak Presiden, harus mampu melakukan konversi daripada BBM fosil kepada energi baru terbarukan,” tutup Bahlil.

Sebagai  wujud nyata pengembangan mobil hidgrogen, dalam gelaran GHES 2026 kali ini Pemerintah resmi meluncurkan  pilot bus Hidrogen Diesel Dual Fuel atau Bus H2 DDF serta pengembangan Green Hydrogen Corridor yang menghubungkan Jakarta, Karawang, dan Patimban.

Bus bermesin diesel milik Perum DAMRI tersebut dimodifikasi agar dapat menggunakan kombinasi bahan bakar solar dan gas hidrogen.

Program itu dikembangkan melalui kerja sama Kementerian ESDM, PT PLN (Persero), dan Perum DAMRI. Pelaksanaannya didukung PT SUCOFINDO (Persero) sebagai lembaga pengujian, inspeksi, dan sertifikasi independen serta PT Tritunggal Prakarsa Global sebagai pelaksana proyek percontohan bus.

Bus H2 DDF dilengkapi 16 tabung penyimpanan hidrogen berkapasitas masing-masing 50 liter. Tabung itu memiliki tekanan nominal 200 bar dan tekanan kerja 150 bar, sementara sistem hidrogen dipasang pada bus Hino bermesin diesel enam silinder berkapasitas 7.684 cc.

Berdasarkan pengujian PT SUCOFINDO (Persero), sistem H2 DDF dilaporkan menurunkan emisi opasitas sebesar 57,66 persen, karbon monoksida sebesar 45,45 persen, karbon dioksida sebesar 39,37 persen, serta nitrogen oksida sebesar 21,16 persen.

Pilot bus tersebut dikembangkan untuk mengurangi penggunaan BBM solar, menggantikan sebagian bahan bakar fosil dengan hidrogen, dan menekan emisi gas buang tanpa harus langsung mengganti seluruh armada yang telah beroperasi

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra