Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bahan Bakar Hidrogen Bakal Murah! ESDM Siapkan 3 Jurus Jitu, Termasuk 'Nambang' Langsung dari Alam

Bahan Bakar Hidrogen Bakal Murah! ESDM Siapkan 3 Jurus Jitu, Termasuk 'Nambang' Langsung dari Alam Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Eniya Listiani Dewi, membeberkan strategi komprehensif pemerintah dalam mengejar keekonomian harga hidrogen.

Saat ini, pemerintah tengah merumuskan formula yang tepat agar hidrogen dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi sekaligus memenuhi kebutuhan industri dengan harga yang kompetitif di pasar.

Eniya menjelaskan, strategi pertama dilakukan melalui pemanfaatan kandungan hidrogen yang terdapat secara alami di alam. Hidrogen murni yang terkandung dalam gas bumi diyakini memiliki struktur biaya yang jauh lebih murah. Potensi tersebut saat ini tengah diidentifikasi lebih lanjut oleh Badan Geologi Kementerian ESDM.

“Jadi, hidrogen bisa diproduksi dari mana pun. Salah satunya dari alam yang keluar bersamaan dengan gas alam atau melalui steam, yang di dalamnya terdapat kandungan hidrogen. Ini sedang diidentifikasi oleh Badan Geologi,” ujar Eniya seusai Launching Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026, Selasa (10/2/2026).

Baca Juga: ESDM Targetkan 199 Ton Hidrogen Hijau 2026, Regulasi Harga Dibenahi

Ia memproyeksikan hidrogen berbasis gas alam berpotensi menjadi opsi paling ekonomis untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. “Itu kita inginkan menjadi yang termurah, sama seperti gas alam,” tambahnya.

Selain sumber alami, Eniya juga menyoroti peluang produksi hidrogen melalui pemanfaatan kelebihan daya (excess power) dari pembangkit listrik yang tidak terserap oleh jaringan.

Ia mencontohkan langkah PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) yang telah memproduksi hidrogen dari kelebihan listrik di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulubelu. Kondisi kelebihan pasokan serupa juga terjadi di PLTP Patuha.

“Di panas bumi itu, misalnya di Patuha, ada sekitar 10 MW yang tidak terserap. Ketika listrik ini tidak digunakan atau tidak diserap PLN, maka bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan gas hidrogen melalui metode elektrolisis,” ungkap Eniya.

Metode elektrolisis ini dinilai sangat relevan diterapkan pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang bersifat intermiten. Menurut Eniya, pemanfaatan hidrogen sebagai media penyimpanan energi dinilai lebih efisien secara biaya dibandingkan penggunaan Battery Energy Storage System (BESS).

Baca Juga: Kementerian ESDM Targetkan 200 Ton Hidrogen Hijau Masuk Pasar di 2026

“Kalau siang hari listrik tidak terserap seluruhnya oleh grid, bisa digunakan untuk menghasilkan hidrogen dengan model elektrolisis. Prinsipnya sama seperti di panas bumi,” tegasnya.

“Daripada listrik disimpan di baterai, lebih efisien disimpan dalam bentuk gas. Gasnya ditampung, dan itu salah satu kegunaannya. Kita ingin harganya murah ketika berasal dari excess power,” lanjut Eniya.

Strategi ketiga yang tak kalah penting adalah pemanfaatan hidrogen sebagai produk sampingan (by-product) dari industri chloralkali plant. Proses pengolahan air laut pada industri ini secara teknis menghasilkan hidrogen yang berpotensi dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi.

“Air laut diserap, natriumnya dimanfaatkan, klorinnya digunakan, dan H2-nya menjadi produk sampingan. Ini sudah ada di industri di kawasan Cilegon,” pungkas Eniya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: