Kemenperin Gandeng Swiss dan Jerman Perkuat SDM Industri untuk Genjot Daya Saing
Kredit Foto: Kemenperin
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) industri sebagai langkah menjaga daya saing sektor manufaktur nasional yang selama ini menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Upaya tersebut juga menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menyiapkan talenta industri menuju visi Indonesia Emas 2045.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, transformasi industri yang dipengaruhi digitalisasi, perkembangan kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, transisi menuju ekonomi hijau, hingga perubahan rantai pasok global menuntut lahirnya SDM yang adaptif dan memiliki kompetensi berstandar internasional.
"Karena itu, penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi menjadi prioritas nasional dan merupakan fondasi utama pembangunan SDM industri yang kompeten," ujar Agus dalam keterangan resminya, Selasa (21/7/2026).
Untuk mendukung target tersebut, Kemenperin melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah Swiss melalui State Secretariat for Economic Affairs (SECO) dan Swisscontact, serta Pemerintah Jerman melalui Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH. Kemitraan ini difokuskan pada peningkatan kualitas pendidikan vokasi agar menghasilkan tenaga kerja industri yang mampu bersaing di tingkat global.
Kerja sama tersebut merupakan kelanjutan dari hubungan strategis yang telah terjalin selama bertahun-tahun. Di sektor pengembangan SDM industri, BPSDMI telah bermitra dengan Swiss dan Jerman sejak 2018 melalui program Skills for Competitiveness (S4C) bersama SECO serta dukungan GIZ dalam reformasi sistem pendidikan dan pelatihan vokasi (TVET). Kolaborasi itu kini diteruskan melalui program S4C Fase II bersama Swisscontact dan program Green Jobs for Social Inclusion and Sustainable Transformation (GESIT) yang didampingi GIZ.
Kepala BPSDMI Doddy Rahadi mengatakan, kolaborasi internasional tersebut telah memberikan dampak nyata terhadap penguatan ekosistem pendidikan vokasi industri di Indonesia. Mulai dari penyediaan peralatan praktik modern, peningkatan kapasitas ribuan tenaga pendidik dan peserta didik, hingga penguatan kelembagaan yang sesuai dengan kebutuhan industri manufaktur saat ini.
"Yang tidak kalah penting, kita berhasil membangun sebuah budaya baru, yaitu budaya kolaborasi. Sekolah dan industri tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri; keduanya harus menjadi mitra yang setara dalam mencetak talenta masa depan," kata Doddy.
Baca Juga: Genjot Daya Saing, Kemenperin Dorong Transformasi Digital Industri Farmasi
Menurutnya, BPSDMI juga terus memperluas kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) melalui penguatan sistem pendidikan ganda (dual system), pelatihan bagi instruktur industri (In-Company Trainer), pengembangan Career Development Center, hingga digitalisasi layanan vokasi. Berbagai langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan penyerapan lulusan ke sektor manufaktur.
Transformasi pendidikan vokasi itu juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan industri masa depan, termasuk digitalisasi manufaktur, pengembangan industri berbasis teknologi tinggi, ekonomi sirkular, dan industri hijau.
Sebagai bagian dari penguatan kerja sama tersebut, BPSDMI bersama Pemerintah Swiss dan Jerman menyelenggarakan National Dual Vocational Education and Training (DVET) 2026 pada 21–23 Juli 2026.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman