Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Anjlok! Warga RI Ramai Borong Dolar hingga Rp1.741,46 triliun

Rupiah Anjlok! Warga RI Ramai Borong Dolar hingga Rp1.741,46 triliun Kredit Foto: Antara/Rivan Awal Lingga
Warta Ekonomi, Jakarta -

Riset Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) mengungkap adanya pergeseran perilaku masyarakat dalam menyimpan dana di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. Masyarakat disebut semakin banyak mengalihkan tabungannya ke valuta asing (valas), terutama dolar Amerika Serikat (AS), sebagai upaya menjaga nilai aset.

Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Juni 2026, jumlah rekening dolar AS melonjak 185,5 persen secara tahunan (year on year/YoY). Sementara itu, total nominal simpanan valas mencapai Rp1.741,46 triliun atau tumbuh 19,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Chief Economist Perbanas, Winang Budoyo, mengatakan hal itu karena melemahnya nilai tukar rupiah sehingga mendorong masyarakat mencari instrumen yang lebih aman untuk melindungi aset.

"Karena rupiahnya melemah, semua itu orang untuk mencari keamanan, dia lebih banyak menyimpan uangnya, menyimpan uangnya lebih dalam bentuk dolar," ujar Winang dalam Kelas Jurnalis Perbanas, Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Meski terjadi perpindahan dana ke mata uang dolar, Winang menilai kondisi tersebut tidak mencerminkan bertambahnya uang yang beredar di masyarakat. Menurutnya, yang berubah hanyalah bentuk simpanannya.

"Jadi di situ sebetulnya dari sisi perputaran uangnya itu sebetulnya masih sama aja cuman jenisnya dari rupiah di convert ke dolar hanya untuk menjaga keamanan uang mereka itu aja," jelasnya.

Selain fenomena perpindahan tabungan ke dolar, Perbanas juga mencatat adanya penurunan rata-rata saldo tabungan masyarakat pada kelompok rekening kecil. Berdasarkan hasil riset Perbanas, rata-rata saldo rekening dengan nominal di bawah Rp100 juta mencapai Rp3,1 juta per rekening pada 2018.

Namun, angka tersebut terus mengalami penurunan menjadi Rp1,8 juta per rekening pada 2024 dan kembali menyusut menjadi Rp1,7 juta per rekening per Mei 2026.

Baca Juga: Rata-rata Tabungan Warga RI Tinggal Rp1,7 Juta, Perbanas Ungkap Fenomena Mantab

Baca Juga: Dorong Ekonomi Sirkular Berbasis Masyarakat, Biosirkular Ubah Minyak Jelantah Jadi Rupiah

Winang menilai tren tersebut menunjukkan semakin besarnya tekanan terhadap kondisi keuangan rumah tangga. Menurutnya, masyarakat kini lebih banyak menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dibandingkan menambah simpanan.

"Artinya lebih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi dibandingkan kemampuan mereka untuk mengakumulasi tabungan. Di situlah muncul fenomena yang kami sebut sebagai 'makan tabungan'," pungkasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra