Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kelas Menengah Bikin Tingkat Kepuasan pada Prabowo Menurun, Popularitas Anies Makin Mendekat

Kelas Menengah Bikin Tingkat Kepuasan pada Prabowo Menurun, Popularitas Anies Makin Mendekat Kredit Foto: BPMI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan penurunan tajam tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Di saat yang sama, elektabilitas mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tetap bertahan di kelompok papan atas dan mulai mendekati perolehan suara Prabowo dalam simulasi terbuka calon presiden.

Survei SMRC yang dilakukan pada 5-19 Juli 2026 menempatkan Dedi Mulyadi di posisi teratas dengan elektabilitas 35 persen. Presiden Prabowo Subianto berada di posisi kedua dengan 14,5 persen, sedangkan Anies Baswedan menempati urutan ketiga dengan dukungan 8,2 persen.

Di bawah Anies terdapat Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan elektabilitas 7,7 persen, disusul Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebesar 4,9 persen, Ganjar Pranowo 4,2 persen, dan Mahfud MD 4 persen.

Survei yang sama juga merekam penurunan signifikan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo. Approval rating Presiden turun menjadi 51,1 persen atau merosot 30,1 poin dibandingkan November 2025 yang mencapai 81,2 persen.

Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani mengatakan penurunan kepuasan tersebut terjadi bersamaan dengan memburuknya penilaian masyarakat terhadap berbagai aspek pemerintahan.

"Approval rating tidak datang dari hampa. Penurunan kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo terjadi bersamaan dengan memburuknya penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum," ujar Deni.

SMRC juga mencatat meningkatnya pesimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional. Sebanyak 49,4 persen responden menilai kondisi ekonomi Indonesia buruk atau sangat buruk, melonjak dibandingkan November 2025 yang sebesar 22,7 persen.

Pengamat Komunikasi Politik sekaligus Founder Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio, menilai penurunan kepuasan publik tersebut bukan sesuatu yang mengejutkan. Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah melemahnya dukungan dari kelompok kelas menengah yang merasa belum memperoleh manfaat langsung dari berbagai program pemerintah.

Ia mengingatkan bahwa sejumlah ekonom sebelumnya telah menyampaikan jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia menyusut sekitar 13 juta orang. Kondisi tersebut dinilai ikut memengaruhi persepsi terhadap kinerja pemerintah.

Hendri menilai sejumlah program unggulan pemerintahan Prabowo, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), bantuan sosial, beasiswa, dan Sekolah Rakyat, lebih banyak menyasar masyarakat kelas bawah. Karena itu, ia menduga kelompok yang masih menyatakan puas didominasi oleh penerima manfaat program-program tersebut.

Sebaliknya, kelompok kelas menengah dan masyarakat terdidik dinilai menjadi penyumbang terbesar penurunan tingkat kepuasan. Menurut Hendri, kondisi ekonomi rumah tangga yang belum membaik serta melemahnya daya beli masyarakat turut memperkuat persepsi negatif terhadap pemerintah.

Ia menyinggung fenomena "Rojali" (rombongan jarang beli) dan "Rohana" (rombongan hanya nanya-nanya) yang sempat ramai diperbincangkan sebagai cerminan melemahnya daya beli masyarakat.

Hendri juga mengingatkan bahwa meski jumlah kelas menengah diperkirakan hanya sekitar 18 persen dari total pemilih, kelompok tersebut memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik karena banyak berperan sebagai tokoh atau panutan di lingkungan sosialnya.

Penurunan kepuasan terhadap pemerintah ini menjadi salah satu dinamika politik yang tercermin dalam survei SMRC, di tengah posisi Anies Baswedan yang masih bertahan di tiga besar elektabilitas calon presiden dan mulai memperkecil jarak dengan Presiden Prabowo dalam simulasi terbuka.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat