OJK Wanti-Wanti Risiko Global Meningkat Usai IMF Pangkas Proyeksi
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2026 menjadi 3%. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut revisi tersebut dipicu oleh perang yang berkepanjangan di Timur Tengah setelah gagalnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran pada awal Juli 2026.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan eskalasi konflik geopolitik kembali meningkatkan ketidakpastian ekonomi global. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan menjaga premi risiko (risk premium) di pasar keuangan internasional tetap tinggi.
"Pada Juli 2026, IMF merevisi ke bawah outlook pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3 persen sebagai dampak perang yang berkepanjangan," ujar Friderica dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK Juli 2026, Selasa (4/8/2026).
Selain konflik Timur Tengah, OJK juga menilai kebijakan tarif baru Amerika Serikat terhadap sekitar 60 negara mitra dagang menjadi faktor yang menambah tekanan terhadap prospek ekonomi dunia.
Menurut Friderica, kombinasi ketegangan geopolitik, lonjakan harga energi, dan kebijakan perdagangan global berpotensi memperpanjang volatilitas pasar serta memengaruhi pergerakan harga komoditas.
Meski demikian, OJK melihat masih terdapat faktor penopang yang dapat mengurangi tekanan terhadap ekonomi global.
"Perkembangan investasi AI menjadi upside risk yang menyeimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi global," katanya.
OJK juga mencatat kondisi perekonomian dunia masih bergerak tidak seragam di berbagai kawasan.
Di Amerika Serikat, inflasi mulai menunjukkan tren moderasi dengan aktivitas ekonomi yang relatif stabil. Sementara itu, ekonomi Tiongkok pada kuartal II-2026 mencatat pertumbuhan terendah sejak akhir 2022 akibat lemahnya konsumsi domestik dan investasi swasta.
Baca Juga: IMF Pangkas Ekonomi Global, OJK Ungkap Investasi AI Justru Diprediksi Jadi Penyelamat
Baca Juga: Perang Makin Memanas, Ekonomi Dunia Melambat, Bagaimana Nasib Indonesia? Ini Kata OJK
Adapun di kawasan Eropa dan Inggris, tekanan inflasi juga mulai mereda sehingga memberikan ruang bagi kebijakan moneter yang lebih longgar.
Di tengah ketidakpastian global tersebut, OJK menilai kondisi ekonomi Indonesia masih terjaga.
Inflasi domestik pada Juli 2026 tercatat 2,88% secara tahunan (year on year/yoy), mencerminkan tekanan harga yang masih terkendali di tengah gejolak ekonomi global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: