- Home
- /
- News
- /
- Megapolitan
Pramono Anung Bongkar Penyebab Proyek Daerah Mangkrak: Ego Kepala Daerah Jadi Penghambat
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti salah satu persoalan yang kerap menghambat pembangunan daerah, yakni ego kepala daerah yang enggan melanjutkan program pemimpin sebelumnya. Menurutnya, pergantian kepemimpinan seharusnya tidak menjadi alasan untuk menghentikan program yang masih memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pramono menegaskan dirinya tidak memiliki masalah untuk meneruskan berbagai program yang telah dirancang oleh gubernur sebelumnya. Baginya, pembangunan Jakarta tidak boleh bergantung pada siapa yang sedang memimpin, melainkan harus berorientasi pada kepentingan warga.
"Dulu pasti orang membayangkan bahwa salah satu faktor pemimpin republik ini maupun pemimpin kepala daerah adalah egonya berlebihan. Selalu enggak mau meneruskan pekerjaan-pekerjaan atau hal-hal baik dari pemimpin-pemimpin sebelumnya," kata Pramono di Kantor Dinas Pendidikan, Kamis (6/8/2026).
Menurut Pramono, sikap menolak melanjutkan program lama hanya karena dibuat oleh pemimpin sebelumnya justru dapat menghambat kemajuan daerah. Ia menilai setiap pemimpin memiliki kontribusi yang bisa menjadi bagian dari pembangunan jangka panjang.
"Saya mengatakan bahwa saya enggak malu melanjutkan apa yang dari Pak Sutiyoso, Bang Ali, Pak Fauzi Bowo, Mas Anies, Pak Ahok, Pak Jokowi, siapa pun itu selama untuk kebaikan Jakarta," ujarnya.
Salah satu contoh yang disoroti Pramono adalah penanganan kawasan bekas proyek monorel di Jalan HR Rasuna Said. Tiang monorel yang terbengkalai selama 22 tahun akhirnya dibongkar karena dinilai mengganggu lalu lintas dan menghambat penataan kawasan.
Pramono juga menyinggung Jakarta International Stadium (JIS) yang dibangun pada masa kepemimpinan Anies Baswedan. Menurutnya, pembangunan JIS merupakan proyek besar yang perlu disempurnakan agar manfaatnya bisa dirasakan masyarakat secara maksimal.
Ia menilai salah satu persoalan utama JIS bukan pada keberadaan stadion, melainkan akses transportasi dan fasilitas pendukung ketika digunakan untuk pertandingan maupun konser.
"Begitu ada pertandingan sepak bola, ada konser musik, macetnya bisa 2-3 jam. Dan saya pernah mengalami sendiri ketika bersama dengan Bapak Presiden Jokowi ketika konser Dewa pada waktu itu di sana," jelasnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemprov DKI melanjutkan pembangunan akses menuju kawasan JIS dengan menghubungkan stadion tersebut ke kawasan Ancol. Langkah itu dilakukan agar masyarakat memiliki alternatif lokasi parkir sekaligus mempermudah mobilitas pengunjung.
Selain JIS, Pramono juga mencontohkan pembangunan MRT Jakarta sebagai bukti bahwa proyek besar membutuhkan kesinambungan lintas pemerintahan. Menurutnya, proyek MRT tidak lahir dari satu periode kepemimpinan saja.
Ia menyebut proses awal MRT sudah berjalan sejak era Gubernur Fauzi Bowo bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Kini, pembangunan MRT terus berlanjut dengan target mencapai Harmoni pada 2027 dan Kota Tua pada 2029.
"Ini bukan kerja satu orang, ini kerja banyak orang dan banyak pemimpin," ujar Pramono.
Hal serupa juga terjadi pada proyek LRT Jakarta yang sebelumnya dimulai pada era Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Pemerintah Provinsi DKI kini melanjutkan pengembangan jalur tersebut hingga menuju Manggarai.
Pramono mengatakan perpanjangan jalur LRT Jakarta sepanjang 12,2 kilometer dengan 11 stasiun tersebut ditargetkan mampu mengangkut sekitar 80 ribu penumpang setiap hari.
Menurutnya, keberlanjutan pembangunan menjadi kunci agar Jakarta terus berkembang. Ia berharap para pemimpin daerah ke depan tidak lagi menjadikan perbedaan politik sebagai alasan untuk menghentikan program yang telah memberikan manfaat bagi masyarakat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama