Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

PSI Disebut Mulai Dapatkan Efek Jokowi, Dekati Ambang Batas Parlemen

PSI Disebut Mulai Dapatkan Efek Jokowi, Dekati Ambang Batas Parlemen Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) disebut mulai menunjukkan kenaikan signifikan di tengah menurunnya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan mengungkapkan, elektabilitas PSI dalam simulasi survei terbaru dari SMRC dan Indikator telah berada di kisaran 3 persen hingga 4,1 persen.

Menurut Djayadi, angka tersebut termasuk salah satu capaian elektabilitas tertinggi yang pernah diperoleh PSI sejak berdiri. Ia mengaitkan kenaikan tersebut dengan semakin kuatnya asosiasi mantan Presiden Joko Widodo dengan PSI.

"Itu kan salah satu angka tertinggi yang pernah diperoleh PSI selama berdiri. Hal itu kebetulan bisa dikaitkan dengan upaya Pak Jokowi untuk lebih mengasosiasikan dirinya kepada PSI," ujar Djayadi dalam siniar Total Politik yang tayang Kamis (13/8/2026).

Djayadi juga memaparkan hasil survei eksperimen yang menunjukkan masih kuatnya pengaruh positif Jokowi terhadap dukungan politik. Efek elektoral Jokowi disebut dapat memberikan pengaruh hingga sekitar 10 persen terhadap peningkatan suara PSI.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa figur Jokowi masih memiliki daya pengaruh terhadap sebagian masyarakat, meskipun ia tidak lagi berada dalam struktur pemerintahan.

Kenaikan elektabilitas PSI terjadi ketika tingkat kepuasan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran disebut mengalami penurunan.

Djayadi mengaitkan kondisi tersebut dengan persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat. Ia menyoroti adanya sekitar 13 juta masyarakat kelas menengah yang mengalami penurunan kelas ekonomi.

"Ada sekitar 13 juta kelas menengah kita yang turun kelas. Dalam situasi seperti itu, kalau ada orang yang mencoba bermain memanfaatkan situasi, jadi masuk akal dan dia akan mendapatkan pembenaran dari publik," kata Djayadi.

Selain persoalan ekonomi, sejumlah program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih juga mendapat sorotan terkait tata kelola, persoalan pelaksanaan, serta isu korupsi.

Baca Juga: Mahfud MD Nilai Kasus Roy Suryo dan dr. Tifa Melebar, Jokowi Siap Bawa Ijazah SMP dan SMA

Di tengah situasi tersebut, Djayadi justru melihat Jokowi relatif tidak ikut terseret oleh penurunan citra pemerintahan. Fenomena itu disebut sebagai "efek teflon", ketika sentimen negatif tidak melekat kuat pada figur tertentu.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pengaruh elektoral Jokowi masih dapat terlihat dalam kenaikan dukungan terhadap PSI.

Dengan elektabilitas yang mulai mendekati ambang batas parlemen, PSI kini memiliki peluang untuk memperkuat posisinya dalam peta politik nasional, meski capaian tersebut masih bergantung pada perkembangan dukungan publik ke depan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat