Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Gibran Bisa Aman, Jokowi Effect Disebut Masih Bisa Tarik 10 Persen Suara di 2029

Gibran Bisa Aman, Jokowi Effect Disebut Masih Bisa Tarik 10 Persen Suara di 2029 Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Di tengah menurunnya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka pada pertengahan 2026, kekuatan politik Joko Widodo (Jokowi) dinilai masih memiliki nilai elektoral yang signifikan. Eksperimen survei bahkan menunjukkan pengaruh Jokowi terhadap elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dapat mencapai sekitar 9 hingga 10 persen.

Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan mengungkapkan temuan tersebut dalam channel Youtube Total Politik yang tayang Kamis (13/8/2026). Ia mengatakan, survei Indikator Politik Indonesia menemukan adanya pengaruh signifikan Jokowi terhadap perolehan dukungan PSI.

"Surveinya Indikator itu kan ada eksperimen. Jika dilihat pengaruh Pak Jokowi terhadap PSI, Jokowi Effect itu ada terhadap PSI sampai 10 persen. Artinya sangat signifikan," kata Djayadi.

Temuan tersebut menjadi menarik karena kenaikan elektabilitas PSI hingga 4,1 persen terjadi ketika kepuasan terhadap kinerja pemerintah justru disebut mengalami penurunan. Bagi Djayadi, kondisi ini menunjukkan bahwa pengaruh Jokowi tidak sepenuhnya bergantung pada penilaian masyarakat terhadap pemerintahan saat ini.

Menurut dia, Jokowi dapat membaca hasil tersebut sebagai konfirmasi bahwa dirinya masih mempunyai kemampuan untuk mengerek dukungan terhadap partai yang secara politik diasosiasikan dengannya.

"Kalau saya jadi Pak Jokowi, saya membacanya itu baru konfirmasi. Konfirmasi bahwa kalau dia ingin membantu PSI, dia bisa," ujarnya.

Kondisi itu membuat posisi Jokowi berbeda dengan partai-partai yang saat ini berada di dalam pemerintahan. Partai pendukung Prabowo memiliki kepentingan mempertahankan stabilitas pemerintahan hingga akhir masa jabatan. Sebaliknya, Jokowi memiliki ruang yang lebih fleksibel untuk membangun kendaraan politiknya sendiri menuju 2029.

Di sisi lain, Gerindra masih menjadi partai dengan elektabilitas tertinggi, yakni sekitar 26 persen. Posisi tersebut menunjukkan keuntungan sebagai partai penguasa tetap memberikan modal politik yang kuat, meskipun tingkat kepuasan terhadap pemerintahan mengalami tekanan.

Perbedaan posisi inilah yang dapat menjadi faktor penting dalam membaca peta politik menuju Pemilu 2029. Partai-partai koalisi Prabowo seperti Golkar, PAN, dan Demokrat nantinya berpotensi memiliki kepentingan untuk mendorong kader masing-masing dalam bursa calon wakil presiden.

Dalam situasi tersebut, posisi Gibran sebagai calon wakil presiden pendamping Prabowo pada 2029 belum tentu otomatis aman. Koalisi yang sama pada periode pemerintahan berjalan belum tentu memiliki kepentingan yang sama ketika memasuki kontestasi elektoral berikutnya.

Baca Juga: Tanpa PSI, Gibran Bahkan Dinilai Kesulitan jadi Wapres Lagi di 2029

Sementara itu, Jokowi memiliki opsi untuk mengandalkan PSI sebagai kendaraan politik. Jika PSI mampu mempertahankan momentum dan memenuhi ambang batas untuk masuk ke parlemen, kekuatan tersebut dapat menjadi tambahan daya tawar bagi Jokowi dalam menghadapi pertarungan politik 2029.

Dengan demikian, angka 10 persen bukan sekadar angka elektabilitas partai. Bagi elite politik, temuan tersebut dapat dibaca sebagai ukuran bahwa pengaruh Jokowi masih memiliki nilai tawar tersendiri, bahkan ketika dirinya tidak lagi berada di pemerintahan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat