Teknologi Subsurface Pangkas Biaya Proyek Strategis Indonesia hingga Jutaan Dolar
Kredit Foto: Ist
Pemanfaatan teknologi pemodelan bawah permukaan (subsurface) dinilai semakin penting untuk mendukung keberhasilan proyek-proyek strategis di Indonesia. Selain meningkatkan akurasi pengambilan keputusan, teknologi tersebut juga mampu memangkas biaya, mengurangi risiko proyek, serta mempercepat penyelesaian pembangunan di sektor pertambangan, energi, panas bumi, hingga infrastruktur.
Director Business Development Asia Pasifik Seequent, Scott Moore, mengatakan Indonesia memiliki potensi ekonomi yang besar pada sektor-sektor yang bergantung pada pemahaman kondisi bawah permukaan. Menurutnya, pengelolaan data geologi yang akurat menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, dan pembangunan infrastruktur nasional.
"Indonesia memiliki peluang ekonomi di industri yang terkait dengan subsurface atau bawah permukaan yang besar dan beragam, mencakup pertambangan dan mineral, panas bumi, energi, dan infrastruktur sipil," ujar Scott, dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Ia menjelaskan sektor-sektor tersebut berkontribusi terhadap pendapatan ekspor, ketahanan energi, pembangunan industri, konektivitas nasional, serta penciptaan lapangan kerja terampil. Karena itu, pemahaman kondisi bawah permukaan tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga berdampak langsung pada efisiensi biaya, produktivitas, mitigasi risiko, dan ketepatan waktu penyelesaian proyek.
Seequent mengungkapkan penerapan teknologi subsurface telah memberikan dampak signifikan pada sejumlah proyek di Indonesia.
Pada proyek nikel PT Stargate di Sulawesi, penggunaan perangkat lunak Seequent mampu mengurangi kebutuhan pengeboran hingga 80%, menghemat biaya sekitar US$8 juta, serta meningkatkan produktivitas tenaga kerja hingga 50%.
Sementara itu, pada proyek Lumut Balai Unit 3 milik PT Pertamina Geothermal Energy, pemanfaatan alur kerja Leapfrog yang disesuaikan berhasil menurunkan risiko pengeboran dari 48% menjadi 15%, sekaligus menghasilkan penghematan biaya pengeboran sebesar US$1,5 juta.
Di sektor infrastruktur, teknologi Bentley dan Seequent juga diterapkan pada proyek Jalan Trans-Papua yang dikerjakan PT Hutama Karya. Optimalisasi desain melalui teknologi tersebut menghasilkan penghematan hingga US$1 juta dan mempercepat penyelesaian proyek sekitar dua bulan.
"Pemahaman terkait bawah permukaan yang lebih baik dapat mengurangi pekerjaan yang tidak diperlukan, meningkatkan produktivitas, dan membantu tim mengembangkan sumber daya serta menyelesaikan proyek lebih cepat," kata Scott.
Selain meningkatkan efisiensi, teknologi subsurface juga dinilai mendukung target keberlanjutan. Menurut Seequent, informasi geologi dan rekayasa yang lebih akurat membantu perusahaan mengurangi ketidakpastian, mengevaluasi alternatif desain, serta meminimalkan pekerjaan ulang yang berpotensi meningkatkan biaya maupun dampak lingkungan.
Pada proyek Lumut Balai Unit 3, teknologi tersebut mendukung pemodelan bawah permukaan multidisiplin dan integrasi data yang diperkirakan mampu mengurangi emisi karbon dioksida sekitar 300.000 ton per tahun serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil setara sekitar 2.600 barel minyak per hari.
Sementara itu, optimalisasi desain pada proyek Jalan Trans-Papua dilaporkan menghasilkan pengurangan emisi karbon dioksida sebesar 49.672 kilogram.
Seequent juga mulai mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) ke dalam alur kerja geosains untuk mengotomatisasi pekerjaan berulang dan membantu para ahli memperoleh analisis lebih cepat. Melalui platform Seequent Evo, perusahaan juga menghubungkan berbagai aplikasi dan data geosains agar dapat dimanfaatkan secara lebih terintegrasi.
Di sisi pengembangan sumber daya manusia, Seequent memperkuat kolaborasi dengan berbagai mitra, asosiasi profesi, dan perguruan tinggi, termasuk Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Baca Juga: Investasi AI Indonesia Melonjak, Tapi Kematangan Implementasi Masih Rendah
Baca Juga: Indonesia Butuh 9 Juta Talenta Digital, ITSEC Asia Buka Akademi AI dan Cybersecurity
Baca Juga: Cara Menghasilkan Uang dari AI Video di 2026
Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelatihan Leapfrog dan GeoStudio, serta penyelenggaraan Seequent Connect Indonesia 2026 di Jakarta yang diikuti lebih dari 100 profesional dari kalangan industri, akademisi, dan asosiasi profesi.
Untuk mendukung regenerasi talenta, aplikasi pembelajaran geologi tiga dimensi berbasis browser Visible Geology yang tersedia secara gratis telah digunakan sekitar 3.400 pengguna di Indonesia sejak diluncurkan pada Juni 2024. Perusahaan juga menggelar sesi praktik di ITB, Universitas Sriwijaya, serta melibatkan mahasiswa Universitas Indonesia.
Menurut Seequent, penguatan teknologi, kualitas data, dan kompetensi sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam mendukung pengembangan sektor pertambangan, panas bumi, energi, dan infrastruktur menuju visi Indonesia Emas 2045.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: