Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bukan Rp5 Juta! Harga Emas Diramal Terbang hingga Rp28 Juta per Gram

Bukan Rp5 Juta! Harga Emas Diramal Terbang hingga Rp28 Juta per Gram Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Harga emas dunia diperkirakan masih memiliki ruang kenaikan yang sangat besar. Ketua Electrum Group Thomas Kaplan memperkirakan harga emas dapat mencapai US$30.000-US$50.000 per troy ounce dalam jangka panjang.

Jika dikonversikan menggunakan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS, harga tersebut setara dengan sekitar Rp15,4 juta-Rp25,6 juta per gram. Dengan demikian, proyeksi US$50.000 per troy ounce belum tepat disebut Rp28 juta per gram tanpa asumsi kurs yang lebih tinggi.

Kaplan menyampaikan proyeksi tersebut dalam wawancara dengan Kitco News pada Kamis. Dia menilai kenaikan harga emas hingga 10 kali lipat dari level saat ini bukan sekadar kemungkinan, melainkan sesuatu yang tidak terhindarkan.

"Melihat emas naik 10 kali lipat lagi dari sini, bagi saya bukan hanya mungkin, tetapi tidak terhindarkan," ujar Kaplan, mengutip Kitco, Sabtu (22/8/2026). 

Dia kemudian memperkirakan harga emas dapat mencapai US$30.000, US$40.000, bahkan US$50.000 per troy ounce.

"Saya bisa melihat emas mencapai US$30.000, US$40.000, US$50.000 tanpa masalah," katanya.

Sebagai gambaran, harga emas berada di sekitar US$4.515 per troy ounce pada Kamis sore. Dengan level tersebut, target US$50.000 berarti harga emas berpotensi naik lebih dari 10 kali lipat.

Namun, Kaplan tidak memberikan batas waktu untuk mencapai target tersebut. Dia juga mengaku tidak mengetahui apakah koreksi harga emas yang sedang berlangsung akan berlanjut atau sudah mencapai titik terendah.

"Mungkin sudah, mungkin masih perlu menguji lagi, saya tidak tahu," ujarnya.

Menurut Kaplan, ketidakpastian dalam jangka pendek tidak mengubah pandangannya terhadap prospek emas dan perak dalam jangka menengah dan panjang.

"Itu tidak penting, karena dalam jangka panjang, bahkan jangka menengah, emas dan perak akan berlipat ganda dari level saat ini," katanya.

Sebut Koreksi sebagai Momen 1987

Kaplan menilai penurunan harga emas saat ini merupakan koreksi di tengah tren kenaikan harga yang lebih panjang. Dia membandingkannya dengan kejatuhan pasar saham pada 1987 yang dikenal sebagai Black Monday.

Sebelumnya, ketika harga emas dan perak berada di dekat level tertinggi, Kaplan telah memperingatkan investor mengenai kemungkinan terjadinya penurunan tajam. Namun, dia justru melihat kondisi tersebut sebagai peluang pembelian.

"Kita bisa mengalami momen 1987. Itu adalah peluang pembelian terbaik sepanjang tren kenaikan," ujarnya.

Dia merujuk pada kejatuhan indeks Dow Jones yang turun sekitar 36% dalam delapan pekan pada 1987. Menurut Kaplan, peristiwa tersebut saat itu terasa seperti kehancuran besar. Namun, dampaknya terlihat jauh lebih kecil ketika dilihat dalam grafik jangka panjang.

"Anda tidak bisa melihatnya dalam grafik jangka panjang," katanya.

Kaplan juga mengungkapkan bahwa keputusan investasinya pada 2007 memiliki kemiripan dengan kondisi pasar saat ini. Kala itu, dia menjual perusahaan energi miliknya, Leor Energy, setelah menilai kondisi pasar sudah terlalu optimistis.

Leor Energy kemudian dijual kepada EnCana dengan nilai US$2,55 miliar. Total transaksi dengan perusahaan Kanada tersebut mencapai hampir US$2,8 miliar.

Setelah keluar dari bisnis energi, Kaplan mengalihkan fokus kekayaannya ke emas dan perak. Saat ini, dia menjabat sebagai Ketua Electrum Group, Ketua NOVAGOLD, serta Ketua Sunshine Silver Mining and Refining.

Waspadai Risiko Kepemilikan Tambang

Selain memproyeksikan kenaikan harga emas, Kaplan menyoroti risiko kepemilikan tambang emas di negara yang sangat bergantung pada komoditas tersebut.

Menurut dia, ketika terjadi tekanan ekonomi global dan tambang menjadi salah satu sumber utama penerimaan negara, pemerintah dapat mengambil alih aset pertambangan.

"Mereka akan mengambilnya dari Anda," ujar Kaplan.

Baca Juga: Harga Emas Antam Naik Lagi, Kini Dibanderol Rp2,74 Juta per Gram

Baca Juga: Harga Emas Bakal Tembus Rp3 Juta Lagi? Ini Kata Pegadaian

Baca Juga: 1.800 Ton Emas Warga Masih Disimpan di Rumah, Nilainya Capai Rp4.460 Triliun

Kaplan mengatakan risiko tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan lokasi tambang yang dimilikinya.

Di sisi lain, dia tetap mempertahankan pandangan positif terhadap logam mulia. Menurutnya, emas dan perak masih memiliki prospek kenaikan dalam jangka menengah dan panjang.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: