Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Lotte Chemical Jajaki Penjualan Saham Pabrik RI ke Danantara Senilai Rp30 Triliun

Lotte Chemical Jajaki Penjualan Saham Pabrik RI ke Danantara Senilai Rp30 Triliun Kredit Foto: Lotte Chemical
Warta Ekonomi, Jakarta -

Raksasa petrokimia Korea Selatan, Lotte Chemical, kembali melanjutkan rencana pelepasan aset luar negerinya, termasuk di Indonesia. Perusahaan dikabarkan tengah bernegosiasi dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk melepas kepemilikan minoritas di proyek petrokimia Lotte Chemical Indonesia (LCI).

Mengutip laporan Korea Economic Daily, Lotte Chemical telah menyampaikan kepada kreditur dan Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan mengenai rencana penjualan aset bisnis petrokimia dasar di Malaysia, Indonesia, dan Amerika Serikat. Proses divestasi yang sempat tertunda akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini kembali dilanjutkan seiring membaiknya kondisi pasar.

Untuk aset di Indonesia, Lotte Chemical tengah membahas penjualan sekitar 25% hingga 30% saham Lotte Chemical Indonesia (LCI) kepada Danantara. Nilai transaksi tersebut diperkirakan mencapai US$1,7 miliar atau sekitar Rp30,09 triliun (kurs Rp17.700 per dolar AS).

Namun, hingga saat ini kedua belah pihak belum menandatangani perjanjian yang mengikat. Persentase saham yang akan dilepas maupun valuasi akhir transaksi juga masih dalam tahap pembahasan.

LCI merupakan proyek kompleks petrokimia terintegrasi di Serang, Banten, dengan total investasi sekitar 5,7 triliun won. Fasilitas tersebut mulai beroperasi secara komersial pada Mei 2025 dan dilengkapi mixed-feed cracker serta fasilitas produksi polipropilena.

Meski baru beroperasi, proyek tersebut masih membukukan kerugian sejak awal produksi. Pada Juni 2026, anak usaha tersebut bahkan memperoleh pinjaman sebesar US$790 juta atau sekitar Rp13,98 triliun dari perusahaan induknya untuk mendukung operasional.

Struktur kepemilikan LCI saat ini terdiri atas 51% dimiliki Lotte Chemical Titan, 24% oleh Lotte Chemical, dan 25% oleh konsorsium Korea Selatan.

Di luar Indonesia, Lotte Chemical juga kembali mengaktifkan rencana penjualan sejumlah aset lainnya. Di Malaysia, perusahaan menjadikan Lotte Chemical Titan sebagai target utama divestasi setelah anak usaha tersebut mencatatkan kerugian selama 17 kuartal berturut-turut.

Perusahaan sebelumnya telah membukukan rugi penurunan nilai aset sekitar 1 triliun won pada kuartal IV 2025. Pelemahan margin produk petrokimia dasar, terutama akibat tekanan selisih harga high-density polyethylene (HDPE) terhadap nafta serta meningkatnya pasokan di Asia Tenggara, menjadi penyebab utama memburuknya kinerja bisnis tersebut.

Sementara itu di Amerika Serikat, Lotte Chemical melanjutkan rencana penjualan 40% saham fasilitas petrokimianya di Louisiana yang sebelumnya diumumkan pada Oktober 2024. Saat itu, perusahaan menargetkan nilai transaksi sekitar 660 miliar won. Pabrik tersebut memproduksi etilena glikol dan sempat menghentikan operasi selama sekitar tiga pekan pada Juli 2026 akibat kerusakan peralatan utama.

Langkah pelepasan aset dilakukan di tengah tekanan finansial yang terus membayangi perusahaan. Sepanjang periode 2022 hingga 2025, Lotte Chemical mencatat rugi operasi selama empat tahun berturut-turut dengan akumulasi kerugian bisnis petrokimia dasar mendekati 3 triliun won.

Pada 2025, perusahaan membukukan rugi operasi sebesar 943,1 miliar won, terbesar sejak perusahaan berdiri. Adapun rugi bersih sepanjang tahun mencapai 2,4762 triliun won.

Baca Juga: Danantara Siapkan DDMF untuk Bangun Giant Sea Wall Pantura, Ditargetkan Rampung 8 Tahun

Baca Juga: Prabowo Minta BUMN Hanya 300, Danantara: Sangat-sangat Berat

Baca Juga: Danantara Didesak Buka Kontribusi Pertumbuhan Ekonomi untuk Kejar Target 8%

Di sisi lain, posisi utang bersih konsolidasi meningkat dari sekitar 6,7 triliun won pada akhir 2025 menjadi 8,06 triliun won pada kuartal I 2026. Rasio utang bersih terhadap total modal juga naik dari 38% menjadi 43%.

Kondisi tersebut turut mendorong lembaga pemeringkat Korea Selatan menurunkan prospek peringkat kredit perusahaan dari "stabil" menjadi "negatif" pada Juni 2026.

Sebagai bagian dari restrukturisasi, Lotte Chemical menargetkan transformasi bisnis hingga 2030 dengan mengurangi ketergantungan pada bisnis petrokimia dasar dan meningkatkan porsi bisnis material maju, kimia spesialis, material baterai, serta energi hidrogen. Untuk mendukung strategi tersebut, perusahaan memperluas penjualan aset dari pasar domestik Korea Selatan ke Asia Tenggara dan Amerika Serikat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri

Berita Terkait