Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Lihat Dedi Mulyadi Gercep Turun Sampai ke NTT, Ada yang Berkomentar: Enggak Kapok-Kapoknya

Lihat Dedi Mulyadi Gercep Turun Sampai ke NTT, Ada yang Berkomentar: Enggak Kapok-Kapoknya Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Penulis Tere Liye menyoroti langkah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang turun langsung ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memberikan bantuan Rp20 juta kepada warga yang rumahnya rusak berat akibat gempa.

Melalui unggahan di media sosial, Tere Liye mengaitkan pemberian bantuan tersebut dengan dana operasional yang dimiliki pejabat negara dan daerah. Ia menyebut penggunaan dana operasional pejabat telah diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Tere Liye kemudian membandingkan besaran dana operasional sejumlah pejabat, mulai dari presiden, wakil presiden, hingga gubernur.

"Berapa operasional Presiden? 140 miliar anggaran 2026. Wapres? Sekitar 50 miliar. Per tahun. Buanyak sekali loh ini duitnya," tulis Tere Liye.

Ia menyebut dana operasional tersebut dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan kegiatan pejabat, termasuk perjalanan dinas, jamuan, suvenir hingga bantuan sosial.

Tere Liye juga menyoroti dana operasional gubernur. Ia menyebut Gubernur Jawa Barat mendapatkan dana operasional sekitar Rp21 miliar per tahun atau hampir Rp2 miliar per bulan.

"Itu tuh bukan duit pribadi. Gubernur? Tergantung PAD-nya. Jawa Barat, Gubernur dapat 21 miliar per tahun. Alias nyaris 2 miliar per bulan," tulisnya.

Menurut Tere Liye, dana tersebut bukan merupakan uang pribadi pejabat, melainkan uang negara yang penggunaannya memiliki aturan.

Ia juga menyinggung dana yang dimiliki anggota DPR, seperti dana aspirasi dan dana reses. Menurutnya, berbagai fasilitas anggaran tersebut juga dapat digunakan untuk kegiatan yang berkaitan dengan tugas dan aktivitas anggota legislatif.

Dalam unggahannya, Tere Liye juga menjelaskan bahwa foto atau gambar yang digunakan dalam unggahannya terkait Dedi Mulyadi hanya sebagai ilustrasi. Ia meminta pembaca tidak mempermasalahkan penggunaan gambar tersebut.

Tere Liye kemudian membawa pembahasan ke persoalan kinerja kepala daerah di Jawa Barat. Ia mengaku telah tinggal di Bandung dan Depok sejak 2007 sehingga mengikuti dinamika pemerintahan di wilayah tersebut.

"Tapi, jika kamu mau tetap baper, juga boleh kok. Saya itu Sejak 2007 tinggal di Bandung, kemudian Depok. Jika ada yg nanya ke saya soal kinerja walikota, gubernur, maka saya akan jawab: "Lihatlah Ridwan Kamil. Saat berkuasa, duuh, dikritik dikit saja pemujanya ngamuk sampai ke Mars. Saat Ridwan Kamil kalah, lantas masalah bermunculan, entahlah, pemujanya sdh asyik memuja-muja yang lain. Nggak kapok2nya. Jabar maju? B saja," kata penulis 'Terus Lah Bodoh, Jangan Pintar" tersebut.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat