Tren Oral Care Jadi Peluang Bisnis, Pasar Produk Bau Mulut Diproyeksi Tembus USD 26,36 Miliar
Kredit Foto: Istimewa
Perubahan gaya hidup masyarakat urban turut mendorong pertumbuhan pasar perawatan mulut. Tingginya tingkat stres dan tren diet tinggi protein disebut dapat meningkatkan risiko bau mulut, sementara masalah gigi sensitif juga menjadi perhatian konsumen.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi industri oral care untuk menghadirkan produk dengan fungsi yang semakin spesifik, seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kesehatan dan penampilan.
Berdasarkan data Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, masalah halitosis atau bau mulut ditemukan pada 28,6% masyarakat. Potensi pasarnya pun tergolong besar.
Mengutip laporan Mordor Intelligence mengenai Global Halitosis Market, nilai pasar global produk penanganan bau mulut mencapai USD14,41 miliar pada 2025. Nilai tersebut diperkirakan meningkat sekitar 10,5% menjadi USD15,93 miliar pada 2026.
Pasar tersebut bahkan diproyeksikan terus tumbuh hingga mencapai USD26,36 miliar pada 2031. Proyeksi ini menunjukkan meningkatnya kebutuhan konsumen terhadap produk yang tidak sekadar memberikan sensasi segar, tetapi menawarkan solusi terhadap penyebab masalah bau mulut.
Selain halitosis, persoalan gigi sensitif juga menjadi peluang bagi industri perawatan mulut. Studi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia dan IQVIA pada 2024 menunjukkan 62% responden mengalami frekuensi gigi sensitif yang tinggi. Sebanyak 86% penderita mengaku merasa cemas terhadap rasa sakit ketika makan.
Perubahan kebutuhan konsumen tersebut mendorong pergeseran tren dari produk oral care konvensional menuju perawatan yang lebih terarah. Salah satu tren yang berkembang adalah skinification, yakni penggunaan bahan aktif spesifik dalam produk perawatan gigi seperti halnya produk skincare.
Baca Juga: Gibran jadi Instrumen Elektoral Prabowo, Langkah Jokowi Disebut Berbahaya
Tren tersebut turut menjadi strategi bagi pelaku industri untuk melakukan diferensiasi produk di tengah persaingan pasar oral care. Konsumen tidak lagi hanya mempertimbangkan rasa dan kesegaran, tetapi juga kandungan serta fungsi produk.
Salah satu perusahaan yang melihat peluang tersebut adalah usmile Indonesia. Perusahaan mengembangkan pendekatan oral beauty melalui produk yang menyasar kebutuhan spesifik konsumen, termasuk bau mulut dan gigi sensitif.
Country Manager usmile Indonesia dan Malaysia Michelle mengatakan perawatan mulut kini tidak lagi sebatas rutinitas kebersihan, tetapi mulai menjadi bagian dari perawatan diri.
“Melalui pendekatan oral beauty, usmile berkomitmen untuk terus berinovasi mendefinisikan ulang perawatan gigi agar masyarakat dapat mengekspresikan senyum terbaiknya tanpa rasa khawatir dalam setiap interaksi sosial,” ujarnya.
Untuk kebutuhan bau mulut, usmile menghadirkan Fresh White yang menggunakan Zinc Glycinate untuk membantu mengikat dan menetralisir gas Volatile Sulfur Compounds (VSCs), yang menjadi salah satu penyebab bau mulut.
Sementara itu, varian Repair White menyasar konsumen dengan masalah gigi sensitif melalui penggunaan Hydroxyapatite. Produk tersebut juga menggunakan Sodium Hyaluronate dan Allantoin yang diklaim membantu menjaga kelembapan serta kenyamanan jaringan gusi.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa industri oral care mulai bergerak ke arah produk yang lebih tersegmentasi. Bagi pelaku usaha, perubahan perilaku konsumen tersebut sekaligus menciptakan ruang pertumbuhan melalui inovasi formula, diferensiasi produk, serta pendekatan perawatan yang semakin personal.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Istihanah
Editor: Istihanah
Tag Terkait: