Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Aset Sektor PPDP Tumbuh Malu-malu, OJK Ungkap Penyebabnya

Aset Sektor PPDP Tumbuh Malu-malu, OJK Ungkap Penyebabnya Kredit Foto: Azka Elfriza
Warta Ekonomi, Jakarta -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengakui gejolak di pasar modal domestik turut mempengaruhi pertumbuhan aset di sektor Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP). Imbasnya, total aset sektor PPDP tumbuh sangat rendah yakni 0,37 % (YTD) menjadi sebesar Rp2.964,56 triliun. Bila dilihat secara tahunan pertumbuhannya hanya sebesar 4,48% (YoY) atau di bawah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebesar 5,29% di kuartal II 2026.

"Kondisi ini berarti penetrasi pendalaman pasar asuransi kita malah turun karena pertumbuhannya di bawah pertumbuhan ekonomi," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) saat FGD bersama Redaktur Media Massa di Lombok, NTB, akhir pekan ini.

Selain penetrasi yang masih rendah, Ogi juga menyoroti kondisi pasar modal yang mengalami gejolak akibat keputusan penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sementara perhitungan indeks saham - saham Indonesia.

Menurutnya, kondisi ini cukup memberikan tekanan terhadap nilai investasi perusahaan sektor PPDP. Menilik data OJK, nilai investasi PPDP terkoreksi 0,15 persen (ytd) dan tumbuh 4,72 persen (yoy) menjadi Rp2.276 triliun.

"Jadi yang menjadi utama memang penurunan nilai investasi karena mark to market saham anjlok, naiknya suku bunga, itu akan menggerus dan nanti menjual portofolio (investasi)," jelasnya.

Baca Juga: OJK Bongkar Duduk Perkara Soal Investasi Felda di BWPT yang Diungkap Anwar Ibrahim

Baca Juga: OJK Didorong Perkuat Pengawasan Pindar di Tengah Perkembangan Akseleran dan Julo

Kendati demikian, Ogi bilang bahwa penurunan nilai investasi saat ini masih bersifat mark to market. Kerugian baru akan terjadi apabila pemilik aset terpaksa menjual investasinya untuk memenuhi kebutuhan likuiditas. Kondisi ini berpotensi menggerus nilai aset dan portofolio yang dimiliki karena mereka terpaksa menjual portofolio investasi di tengah penurunan nilai investasinya.

Tak hanya itu, penurunan kemampuan ekonomi masyarakat turut menggeser prioritas masyarakat terhadap produk keuangan jangka panjang seperti asuransi dan dana pensiun. Akibatnya pendapatan premi perusahaan asuransi ikut tertekan.

"Lainnya ada penurunan demand polis baru, dan pandangan masyarakat yang menjadikan asuransi sebagai secondary priority," tuturnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Fajar Sulaiman
Editor: Fajar Sulaiman