Peraih Nobel Ekonomi James Robinson Dorong Indonesia Bangun Model Ekonomi Sendiri Berlandaskan Pancasila
Kredit Foto: Istimewa
Peraih Nobel Ekonomi 2024 sekaligus penulis buku "Why Nations Fail", Prof. James A. Robinson, menilai Pancasila menjadi salah satu fondasi penting yang membantu Indonesia mengelola keberagaman. Pengalaman tersebut dinilai menarik karena menunjukkan adanya landasan politik yang tumbuh dari sejarah dan kebudayaan Indonesia sendiri.
Hal itu mengemuka dalam diskusi yang digelar Megawati Institute di Jakarta, Sabtu (29/8/2026). Dalam forum yang berlangsung sekitar 2,5 jam tersebut, Robinson membandingkan pengalaman Indonesia dengan berbagai negara yang menjadi objek penelitiannya.
Direktur Megawati Institute Hilmar Farid mengatakan Robinson melihat pengalaman politik Indonesia sebagai sesuatu yang khas. Bahkan, menurut Hilmar, Robinson menyebut pengalaman Indonesia dalam membangun kehidupan bersama di tengah keberagaman sebagai semacam political miracle.
Indonesia memiliki sejarah dan kebudayaan yang sangat kaya. Pancasila menjadi bagian penting dari cara bangsa dengan tingkat keberagaman tinggi tersebut membangun kehidupan bersama.
Namun, menurut Hilmar, pembahasan Robinson kemudian berkembang pada pertanyaan mengenai bagaimana fondasi politik tersebut diterjemahkan dalam bidang ekonomi.
Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana Indonesia dapat membangun model ekonomi yang benar-benar tumbuh dari sejarah, kebudayaan, serta kebutuhan masyarakatnya sendiri.
Hilmar mengatakan pemikiran Robinson relevan dengan situasi dunia saat ini ketika berbagai negara mulai mempertanyakan kembali model pembangunan yang selama ini dianggap mapan.
Menurut dia, tidak ada satu model pembangunan yang dapat diterapkan begitu saja kepada seluruh negara. Setiap negara memiliki sejarah, institusi, serta karakter masyarakat yang berbeda.
Pengalaman Tiongkok, Korea Selatan, Jerman, Swedia, hingga Amerika Serikat menunjukkan bahwa proses pembangunan berlangsung melalui kondisi dan institusi yang berbeda-beda.
Karena itu, Indonesia dinilai tidak harus mencari satu negara untuk dijadikan model secara utuh. Sebaliknya, pembangunan perlu mempertimbangkan apa yang telah dimiliki Indonesia, termasuk sejarah, kebudayaan, serta bentuk institusi yang sesuai dengan karakter masyarakatnya.
Gagasan tersebut menjadi penting di tengah perubahan ekonomi global. Berbagai model pembangunan yang sebelumnya dianggap berhasil kini menghadapi tantangan dan kembali dipertanyakan.
Selain model pembangunan, diskusi juga menyoroti pentingnya institusi dalam menentukan keberhasilan suatu negara.
Pemikiran Robinson selama ini menempatkan institusi politik dan ekonomi sebagai salah satu faktor penting yang membedakan perjalanan pembangunan antarnegara. Dalam konteks Indonesia, Hilmar menilai perspektif tersebut perlu mendapat perhatian lebih besar karena pembicaraan politik masih kerap berfokus pada figur.
Menurut Hilmar, figur pemimpin dapat berganti, tetapi institusi menjadi fondasi yang memungkinkan sebuah sistem bertahan dan berjalan secara berkelanjutan.
Karena itu, pembangunan Indonesia tidak cukup hanya melihat siapa yang memimpin. Kekuatan institusi dan masyarakat juga perlu menjadi bagian dari perhatian dalam membangun sistem ekonomi dan politik.
Diskusi bersama Robinson tersebut diikuti berbagai kalangan, mulai dari anggota DPR RI, akademisi, pelaku usaha, organisasi pekerja, mahasiswa, hingga jurnalis.
Hilmar berharap forum semacam itu dapat menghidupkan kembali tradisi pertukaran gagasan di antara berbagai kelompok masyarakat. Menurut dia, Megawati Institute berupaya mendorong sirkulasi pengetahuan agar semakin banyak masyarakat terbuka untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai arah pembangunan Indonesia dan menjawabnya berdasarkan pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: