DPR Panggil BI, Purbaya, OJK hingga Danantara, Soroti Investasi Rp1.200 Triliun untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6%
Kredit Foto: Andi Hidayat
Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI memanggil sejumlah pemangku kebijakan ekonomi. Mereka adalahDesrty Damayanti perwakilan Bank Indonesia (BI), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, hingga Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Ketua Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy, dan COO BPI Danantara Donny Oskaria.
Pemanggilan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi nasional menuju level 6%. yang menjadi cita-cita pemerintah dari Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Fauzi Amro, mengatakan peningkatan investasi dan pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan yang saling mendorong. Karena itu, pemerintah perlu menemukan formula agar target investasi dapat menjadi pengungkit pencapaian pertumbuhan ekonomi 6%.
“Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, semakin tinggi investasi, semakin tinggi juga pertumbuhan ekonomi. Ini harus ditemukan, antara pertumbuhan ekonomi yang 6% dan investasi yang Rp1.200 triliun di 2027,” kata Fauzi Senin (31/8/2026).
Menurutnya, pembahasan tidak cukup hanya melihat besaran investasi yang masuk. Yang lebih penting adalah memastikan investasi tersebut memberikan dampak terhadap kapasitas produksi, penciptaan lapangan kerja, serta aktivitas ekonomi di dalam negeri.
Hal tersebut menjadi perhatian dalam pembahasan DPR bersama sejumlah pemangku kebijakan ekonomi, mulai dari Bank Indonesia (BI), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
DPR ingin melihat bagaimana kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan investasi dapat disinergikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.
“Kita ingin semuanya berjalan on the track, baik investasi, pendapatan negara, maupun belanja negara. Pada akhirnya, semua itu juga bermuara pada stabilitas nilai tukar.” ujarnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra