Kredit Foto: Istimewa
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, prediksi El Nino yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu menjadi perhatian dalam memantau perkembangan harga pangan ke depan.
"Berdasarkan informasi dari BMKG yang merilis prediksi El Nino pada 2026 yang berpotensi bertahan hingga awal tahun 2027, tentunya kondisi tersebut perlu menjadi perhatian," kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS Pusat, Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Menurut dia, dampak El Nino perlu dicermati terutama terhadap perubahan harga sejumlah komoditas pangan. Sebab, gangguan produksi akibat kondisi cuaca dapat berpengaruh langsung terhadap ketersediaan pasokan.
Risiko tersebut mulai terlihat dari perkembangan inflasi Agustus 2026. BPS mencatat inflasi bulanan mencapai 0,21%, dengan kelompok harga bergejolak atau volatile food mengalami inflasi lebih tinggi, yakni 0,88%.
Kelompok tersebut memberikan andil 0,15% terhadap inflasi bulanan Agustus.
Sejumlah komoditas pangan menjadi penyumbang tekanan harga, di antaranya daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.
Beras memberikan andil inflasi sebesar 0,02%, sedangkan cabai rawit menyumbang 0,02%. Daging ayam ras menjadi salah satu komoditas yang memberikan tekanan cukup besar terhadap kelompok pangan.
Baca Juga: BPS: Harga Beras Naik Lagi, Premium Melonjak 10% Setahun
Baca Juga: Inflasi Agustus 2026 Capai 3,19 Persen, Harga Daging Ayam Jadi Penyumbang Utama
Baca Juga: Tak Bisa Sendiri, Destry Damayanti Dorong Sinergi Pengendalian Inflasi Pangan
Produksi Mulai Tertekan
Bukan hanya harga yang menjadi perhatian. BPS juga mencatat produksi sejumlah komoditas hortikultura mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.
Cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang produksinya turun, terutama di sejumlah daerah sentra seperti Kabupaten Sampang, Kabupaten Lamongan, dan Kabupaten Temanggung.
Penurunan produksi tersebut ikut memberikan tekanan terhadap harga cabai rawit. Pada Agustus 2026, komoditas tersebut tercatat memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,02%.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perkembangan produksi dan pasokan menjadi faktor penting yang perlu dipantau, terutama ketika Indonesia mulai menghadapi potensi gangguan cuaca.
Jika El Nino benar-benar bertahan hingga awal 2027 dan berdampak terhadap produksi pertanian, pasokan sejumlah komoditas pangan berpotensi ikut terganggu.
Ketika pasokan menurun sementara kebutuhan masyarakat tetap berjalan, tekanan terhadap harga pangan dapat meningkat.
BPS karena itu meminta perkembangan produksi, distribusi, dan pasokan pangan terus dicermati dalam beberapa bulan ke depan.
Risiko tersebut menjadi penting karena kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta komponen harga bergejolak memiliki pengaruh cukup besar terhadap pergerakan inflasi.
Dengan kata lain, tantangan harga pangan tidak berhenti pada kenaikan yang terjadi pada Agustus. Jika gangguan produksi akibat El Nino terjadi, tekanan harga bisa berlanjut hingga memasuki 2027.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: