Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti langsung pasang ancang-ancang dalam mengawal ekonomi nasional, pasca ditetapkan sebagai pejabat tertinggi bank sentral oleh DPR RI pada Selasa (1/9/2026).
Pengganti Perry Warjiyo tersebut siap mendorong proyeksi di tahun depan, seperti pertumbuhan ekonomi di level 6% dan nilai tukar atau kurs rupiah paling tinggi di kisaran Rp17.300 per dolar AS.
Destry memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027 akan tetap baik. Semisal pada tahun ini, dengan kisaran 4,9-5,7%.
Setahun setelahnya, BI menganggap optimisme para pelaku ekonomi hingga pemasukan investasi di bawah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) bakal mengangkat ekonomi nasional.
"Sementara di 2027, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan meningkat dalam kisaran 5,2 persen hingga 6 persen. Didukung keyakinan pelaku ekonomi yang meningkat serta kenaikan investasi khusus yang berasal dari Danantara," kata Destry.
Di sisi lain, Destry pun yakin Rupiah bakal lebih perkasa di tahun depan berkat beberapa faktor utama. Antara lain, prospek ekonomi global lebih baik di 2027 tumbuh sebesar 3,3%, merendahnya risiko geopolitik, hingga membaiknya persepsi risiko investasi yang dapat mendorong kembali aliran masuk modal ke emerging market serta mengurangi tekanan penguatan dalam dolar AS.
"Pada tahun 2027, rupiah diperkirakan dalam tren menguat di kisaran Rp17,300-17,800 (per dolar AS)," terang dia.
Baca Juga: Ini Profil dan Rekam Jejak 3 Pimpinan Baru Bank Indonesia
Baca Juga: Sah! DPR Tetapkan Destry Damayanti Jadi Gubernur Bank Indonesia
Baca Juga: Bank Indonesia Dorong UMKM Manfaatkan Limbah Jadi Peluang Ekonomi Sirkular
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia mengoptimalkan strategi intervensi valuta asing baik melalui intervensi di pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri maupun transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar dalam negeri.
Bank Indonesia juga memperluas kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portfolio asing sekaligus mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (valas).
"Dengan penguatan langkah tersebut, nilai tukar rupiah pada 31 Agustus 2026 berada di level Rp17,715, menguat sebesar 1,57% dibandingkan dengan akhir Juli 2026 yang sebesar Rp17,994," pungkas Destry.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Editor: Dian Ihsan