Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
Peresmian pabrik PT BYD Motor Indonesia di Subang, Jawa Barat, menandai dimulainya fase baru industri kendaraan listrik di Indonesia. Namun, bagi pemerintah, pembangunan fasilitas produksi tersebut bukan menjadi tujuan akhir.
Tantangan berikutnya adalah memastikan investasi BYD ikut memperkuat industri komponen dalam negeri, sehingga semakin banyak nilai tambah dari produksi mobil listrik yang tercipta di Indonesia.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pemerintah ingin investasi kendaraan listrik tidak berhenti pada pembangunan fasilitas produksi. Penggunaan komponen lokal dan penguatan struktur industri menjadi bagian penting dari perkembangan manufaktur kendaraan listrik di Tanah Air.
“Investasi tidak berhenti hanya pada produksi, tetapi semakin meningkatkan komponen dan kapasitas struktur industri,” kata Agus dalam peresmian pabrik BYD di Subang, Kamis (3/9/2026).
Pemerintah sendiri tengah mendorong peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) kendaraan listrik secara bertahap. Agus menyebut target TKDN diarahkan mencapai 40 persen pada 2026, kemudian meningkat menjadi 60 persen pada periode 2027-2029 dan 80 persen pada 2030.
Kenaikan target tersebut membuat keberadaan pabrik BYD memiliki arti lebih besar dibanding sekadar menambah kapasitas produksi mobil listrik di Indonesia.
Pasalnya, semakin tinggi tingkat kandungan lokal, semakin besar pula peluang industri komponen domestik masuk ke dalam rantai pasok kendaraan listrik.
Agus mengatakan penguatan industri komponen perlu menjadi perhatian pemerintah seiring bertambahnya investasi di sektor kendaraan listrik. Menurut dia, ekosistem industri harus dibangun secara terintegrasi, mulai dari manufaktur komponen hingga produksi kendaraan.
Langkah tersebut menjadi penting karena perkembangan pasar kendaraan listrik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir berlangsung cukup cepat. Agus mencatat populasi kendaraan listrik di Indonesia hingga April 2026 telah mencapai 486.291 unit, dengan kendaraan roda empat mencapai sekitar 223.000 unit.
Di pasar mobil listrik, BYD juga telah memiliki pijakan yang cukup kuat. Agus menyebut penjualan produk BYD di Indonesia sepanjang 2024-2026 telah mencapai hampir 99.000 unit.
Produk BYD yang telah dipasarkan di Indonesia juga disebut memiliki TKDN di atas 40 persen. Namun, pemerintah ingin capaian tersebut tidak berhenti pada angka tersebut seiring dimulainya produksi lokal.
Dengan kata lain, pabrik BYD kini menghadapi ujian berikutnya: bukan hanya berapa banyak mobil yang mampu diproduksi, tetapi seberapa jauh aktivitas produksi tersebut mampu menarik industri lokal ke dalam rantai pasok.
Pembangunan pabrik BYD juga menjadi bagian dari upaya pemerintah mengubah posisi Indonesia dalam industri kendaraan listrik.
Selama periode awal kehadirannya di Indonesia, BYD membangun pasar melalui produk kendaraan listrik yang didatangkan dari luar negeri. Dengan dimulainya produksi lokal, hubungan BYD dengan industri Indonesia memasuki tahap yang berbeda.
Agus menilai keberhasilan BYD di pasar harus berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas manufaktur di dalam negeri.
Baca Juga: BYD Mulai Produksi Mobil di Subang, Bidik Penjualan 200.000 Unit
Baca Juga: Harga Mobil BYD Agustus 2026: Ada yang Naik Rp12 Juta
Baca Juga: BYD dan Jaecoo Jadi Penguasa Mobil Listrik di Indonesia
Pemerintah bahkan melihat fasilitas produksi BYD dapat menjadi pijakan untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi kendaraan listrik sekaligus membuka peluang ekspor ke pasar kawasan.
Namun, peluang tersebut akan semakin besar manfaatnya bagi perekonomian jika rantai pasok di dalam negeri ikut berkembang.
Sebab, nilai tambah industri otomotif tidak hanya berasal dari proses perakitan kendaraan. Keterlibatan pemasok komponen, pengembangan teknologi, hingga peningkatan kemampuan manufaktur nasional akan menentukan seberapa besar dampak ekonomi yang ditinggalkan sebuah investasi.
Karena itu, target TKDN hingga 80 persen pada 2030 menjadi pekerjaan lanjutan setelah pabrik BYD mulai beroperasi.
Bagi pemerintah, keberhasilan investasi BYD pada akhirnya bukan hanya diukur dari jumlah mobil listrik yang keluar dari lini produksi Subang. Ukuran yang lebih besar adalah seberapa jauh kehadiran BYD mampu memperluas ekosistem industri, meningkatkan penggunaan komponen lokal, dan menciptakan nilai tambah yang lebih besar di Indonesia.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan