Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bank Mandiri Revisi Proyeksi Ekonomi 2026 Jadi di Atas 5,3%

Bank Mandiri Revisi Proyeksi Ekonomi 2026 Jadi di Atas 5,3% Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bank Mandiri merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 menjadi di atas 5,34%, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,2%. Adapun revisi tersebut didorong oleh masih kuatnya belanja pemerintah dan investasi, serta mulai membaiknya sejumlah indikator ekonomi domestik memasuki kuartal III-2026.

Head of Macroeconomic & Financial Market Research Department Bank Mandiri Dian Ayu Yustina mengatakan perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah gejolak ekonomi global. Menurutnya, pemulihan penjualan ritel dan Mandiri Spending Index (MSI) turut menjadi sinyal perbaikan aktivitas ekonomi.

“Dengan berbagai informasi yang kita kumpulkan di leading menuju Q3, kita melihat sebenarnya perekonomian Indonesia overall year 2026 ini masih sangat resilient. Di tengah berbagai gejolak global yang terjadi, ini kemungkinan overall year bisa tumbuh di atas 5,3%,” ujar Dian dalam acara Macro Economic Outlook secara online, Kamis (3/9/2026).

Pada paruh pertama 2026, Dian menjelaskan pertumbuhan ekonomi akan ditopang belanja pemerintah dan investasi. Pada kuartal II-2026, belanja pemerintah tumbuh sekitar 16% secara tahunan (yoy), meski melambat dari 21% pada kuartal I.

“Belanja pemerintah masih tumbuh cukup kuat di kuartal kedua, sekitar 16%. Melambat sedikit dibanding kuartal satu yang tumbuhnya mencapai 21%. Tentunya belanja pemerintah ini masih sangat ditopang oleh akselerasi atau percepatan belanja terkait dengan program prioritas seperti MBG, Kopdes, dan belanja infrastruktur,” jelasnya.

Selain belanja pemerintah, investasi pada kuartal II-2026 tumbuh 6,9%. Adapun pertumbuhan itu terutama berasal dari investasi bangunan dan kendaraan. Investasi bangunan meningkat sejalan dengan pembangunan infrastruktur pemerintah, sedangkan investasi kendaraan didukung permintaan domestik, terutama kendaraan niaga.

Di sisi lain, konsumsi rumah tangga pada kuartal II tumbuh 5,1%, turun dari 5,5% pada kuartal I. Namun, indikator konsumsi mulai menunjukkan perbaikan pada kuartal III. Penjualan ritel kembali masuk zona positif pada Juli 2026, sementara MSI tetap mencatat pertumbuhan positif.

Data MSI mencatat pertumbuhan belanja masyarakat sebesar 6,4% yoy pada kuartal I-2026, kemudian melandai ke 6,1% pada kuartal II, dan per 23 Agustus 2026 berada di kisaran 6% pada kuartal III. Angka tersebut lebih baik dibandingkan 2025.

Baca Juga: Purbaya: Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen Tak Terlalu Sulit Dicapai di Tahun Depan

Baca Juga: Destry Sebut Pertumbuhan Ekonomi RI Tak Jelek, Ini Buktinya!

Jika dilihat pada kelompok lower, middle, dan upper yang dikategorikan berdasarkan rata-rata tabungan, belanja pada lower dan middle ini menguat karena penyaluran bantuan sosial (bansos) yang mana di bulan Agustus mencapai 7,4% dan middle mencapai 6,8%.

"Penguatan ini seiring dengan adanya penyaluran bansos dan juga stimulus ekonomi. Jadi, penyaluran PKH (Program Keluarga Harapan), program sembako pada periode Juli-September ini juga berkontribusi dengan peningkatan terkait MSI di kelompok lower dan middle," ujarnya.

Dengan itu, Mandiri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada 2026 bisa mencapai 5,34%.

“Ini proyeksi kami latest, jadi kalau kita lihat prognosa di 2026, kami melihat mungkin pertumbuhan ekonomi bisa di 5,34%, di atas proyeksi kami sebelumnya di 5,2%,” pungkas Dian.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri