Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Jawab Isu PSI vs Projo Lagi Rebutan Pengaruh Jokowi, Budi Arie: Projo Berdiri Jauh Sebelum Jokowi Jadi Presiden Bro!

Jawab Isu PSI vs Projo Lagi Rebutan Pengaruh Jokowi, Budi Arie: Projo Berdiri Jauh Sebelum Jokowi Jadi Presiden Bro! Kredit Foto: Andi Hidayat
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi menanggapi isu persaingan antara Projo dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dalam memperebutkan pengaruh di sekitar Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Budi Arie menegaskan Projo tidak memiliki kepentingan untuk berkompetisi dengan PSI. Ia justru mengingatkan sejarah berdirinya Projo sebagai organisasi relawan pendukung Jokowi yang telah terbentuk sebelum Jokowi menjadi presiden.

Menurut Budi Arie, posisi Projo dan PSI tidak tepat jika dipertentangkan. Ia menyebut Projo sudah berdiri sebelum Jokowi menjabat sebagai presiden, sedangkan PSI lahir setelah Jokowi berada di kursi kepresidenan.

"Ngapain (bersaing)? Kita tidak mau berkompetisi. Harus diingat, Projo itu berdiri jauh sebelum Pak Jokowi jadi presiden, Bro! PSI berdiri kan setelah Pak Jokowi jadi presiden. Kita ini abangnya," kata Budi Arie dalam sebuah siniar bersama Hendri Satriyo, Jumat (11/9/2026).

Sebelumnya, Dewan Pimpinan Pusat Partai Solidaritas Indonesia (DPP PSI) saat Budi Arie menggulirkan isu percepatan Pemilu sebelum 2029, PSI lantas membantah keterlibatan Budi Arie Setiadi dalam struktur partai.

Wakil Ketua Umum DPP PSI Andy Budiman menegaskan Budi Arie bukan anggota, pengurus, maupun Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PSI.

"Kami tegaskan, Budi Arie bukan bagian dari PSI. Titik. Karena itu, berhenti menyeret-nyeret nama PSI dalam setiap tindakan, pernyataan, maupun urusan Budi Arie. Dia tidak mewakili PSI. Dia bukan PSI," kata Andy dalam keterangannya, Rabu (26/8/2026).

Menurutnya, sikap politik maupun tindakan Budi Arie merupakan tanggung jawab pribadi yang bersangkutan.

Andy juga meminta agar dinamika politik yang berkembang tidak dimanfaatkan untuk mengadu domba Presiden Prabowo Subianto dengan Jokowi setelah perombakan kabinet.

"Jangan karena di-reshuffle, kemudian sakit hati dan memainkan politik adu domba antara Pak Jokowi dengan Presiden Prabowo," tegas Andy.

Selain itu, Andy menyinggung rekam jejak Budi Arie di organisasi kemasyarakatan Projo yang sempat menjadi sorotan publik. Ia menegaskan PSI tidak ingin memfasilitasi manuver politik pragmatis yang berorientasi pada perebutan jabatan.

"Publik juga tidak lupa ketika dalam Kongres Projo, Budi Arie menyatakan bahwa Projo bukan singkatan Pro Jokowi. PSI tidak butuh avonturir politik yang ke sana kemari memainkan manuver spekulatif. Politik adalah arena perjuangan, bukan arena perjudian pribadi untuk mengejar jabatan jadi menteri lagi," pungkas Andy.

Budi Arie Bicara "Percepatan Sejarah" Menuju 2029

Polemik tersebut sebelumnya muncul setelah pernyataan Budi Arie mengenai kemungkinan terjadinya "percepatan sejarah" dalam dinamika politik Indonesia beredar di media sosial.

Dalam video tersebut, Budi Arie terlihat duduk di samping Jokowi ketika menyampaikan pandangannya mengenai kemungkinan perubahan situasi politik sebelum Pemilu 2029.

Budi Arie mengatakan kondisi masyarakat saat ini menunjukkan sejumlah anomali yang menurutnya perlu mendapat perhatian. Ia juga mengaku memiliki insting bahwa dinamika politik nasional bisa bergerak lebih cepat dari perkiraan.

"Tetapi saya ingin sampaikan, tadi saya sudah bisik ke Pak Jokowi. Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029 Pak. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap nggak?" ucap Budi Arie.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi perhatian karena muncul di tengah dinamika politik nasional dan spekulasi mengenai arah politik menjelang Pemilu 2029.

Namun, Budi Arie tidak secara spesifik menjelaskan bentuk "percepatan" yang dimaksud dalam pernyataannya tersebut.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat