Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

AHY Tak Ingin Prabowo Curiga Demokrat Main Mata Lebih Awal untuk Pilpres 2029

AHY Tak Ingin Prabowo Curiga Demokrat Main Mata Lebih Awal untuk Pilpres 2029 Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memberikan klarifikasi mengenai pidatonya setelah pernyataan tentang kekuasaan memunculkan spekulasi politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Salah satunya adalah ia tak ingin dicurigai oleh Prabowo Subianto.

Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia Arifki Chaniago menilai klarifikasi tersebut salah satunya bertujuan memastikan presiden tidak mencurigai partai tersebut sedang melakukan manuver politik terlalu dini untuk kontestasi Pilpres 2029.

Baca Juga: Kas Jabar Terancam Defisit, Dedi Mulyadi Ogah Buru-buru Pinjam Rp3,4 T: Nanti Warga Rugi Bayar Bunga

“Dan saya rasa klarifikasi yang dimainkan oleh mereka ini adalah bentuk bagaimana untuk tidak ada rasa kecurigaan baik itu dari internal koalisi atau mungkin dari presiden sendiri bahwa mereka main mata lebih awal untuk melihat Pilpres 2029,” kata Arifki, dikutip Sabtu (12/9/2026).

Menurut Arifki, pidato ketua aprtai tersebut yang awalnya disampaikan dalam konteks internal partai justru mendapatkan respons besar dari publik dan partai-partai lain di dalam koalisi pemerintahan.

Demokrat menurutnya tidak ingin respons tersebut berkembang menjadi persepsi bahwa partai sedang mencari posisi atau membaca peluang politik sebelum waktunya.

“Pidato internal mereka , kalau kita membaca ini sebagai sebuah spekulasi politik, tentu ada tafsir yang muncul ke publiknya,” ucap Arifki.

Menurut Arifki, penegasan dan klarifikasi sendiri menjadi penting untuk menghapus kesan bahwa partai itu sedang mengambil ancang-ancang menghadapi Pilpres 2029.

Namun, ia juga melihat pidato tersebut tetap memiliki dimensi politik karena menyinggung sejumlah persoalan pemerintahan, termasuk tekanan terhadap kelas menengah, kondisi ekonomi, aparatur sipil, dan TNI.

“Poin yang saya lihat menarik adalah bahwa mereka untuk mengambil sisi mengkritisi beberapa kebijakan atau mungkin soal ekonomi dan juga isu-isu lainnya,” ujar Arifki.

Ia pun mempertanyakan apakah partai tersebut sedang membaca keberadaan ceruk pemilih kritis di luar pemerintahan.

“Apakah Demokrat lagi membaca ada ceruk elektoral pemilih kritis di luar pemerintahan?” katanya.

Arifki menilai dinamika tersebut membuat klarifikasi yang baru-baru ini terjadi menjadi penting agar kritik maupun refleksi politik partai itu tidak berkembang menjadi kecurigaan bahwa partai tersebut sudah mulai bergerak untuk Pilpres 2029.

Sebelumnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam pidatonya baru-baru ini menyampaikan pesan bahwa kekuasaan tidak dimiliki selamanya oleh seseorang. Pernyataan tersebut kemudian memunculkan spekulasi mengenai arah politik dari AHY.

“Kekuasaan bukan milik seseorang untuk selamanya. Kekuasaan adalah amanah rakyat yang memiliki batas waktu,” kata AHY.

AHY, empat hari kemudian, memberikan penjelasan di hadapan Prabowo hingga Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di HUT ke-25 Partai Demokrat di Indonesia Arena, GBK, Senayan, Jakarta.

“Empat hari yang lalu, bapak presiden, sebagai bagian dari refleksi dan kontemplasi ultah partai, saya menyampaikan pidato politik. Maksudnya sederhana, kami ingin menyemangati kader,” kata AHY.

AHY mengaku khawatir pernyataannya mengenai kekuasaan ditafsirkan di luar konteks. Ia kemudian menegaskan posisi partainya sebagai bagian dari pemerintahan Prabowo-Gibran.

Baca Juga: Tim Gibran Yakin Ada Partai Besar di Balik Gugatan Denny Indrayana: Tak Mungkin Muncul Begitu Saja

“Posisi Demokrat jelas. Kami ingin pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berhasil. Tidak ada hal lain, selain kesuksesan dan keberhasilan pemerintahan ini,” ungkap AHY.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar