Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Prabowo Dorong BRICS Lawan Dominasi Ekonomi Global

Prabowo Dorong BRICS Lawan Dominasi Ekonomi Global Kredit Foto: Foto: Muchlis Jr - BPMI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto mendorong negara-negara BRICS memperkuat kerja sama agar memiliki posisi lebih besar dalam menentukan arah ekonomi dan tata dunia global.

Hal itu disampaikan Prabowo dalam sesi terbatas Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di India, Sabtu (12/9/2026). Dalam forum tersebut, Prabowo menekankan pentingnya persatuan negara-negara Global South untuk memperjuangkan kepentingan bersama.

Prabowo mengawali pidatonya dengan menyampaikan apresiasi kepada Perdana Menteri India Narendra Modi yang memimpin BRICS sekaligus menjadi tuan rumah KTT.

Sebagai anggota baru BRICS, Prabowo juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh negara anggota yang telah menerima Indonesia. Menurutnya, keanggotaan BRICS memberikan ruang lebih besar bagi negara-negara berkembang untuk menyuarakan kepentingannya.

Ia kemudian mengutip pepatah Indonesia, "Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh."

Menurut Prabowo, semangat tersebut sejalan dengan perjuangan negara-negara Asia dan Afrika yang pernah bertemu dalam Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Kini, negara-negara Global South kembali berkumpul dengan posisi yang lebih setara.

"Negara-negara yang baru-baru ini mendapatkan kebebasan, yang telah berjuang melawan imperialisme dan kolonialisme, sekarang berkumpul sebagai sama," kata Prabowo.

Prabowo menilai kekuatan BRICS tidak hanya terletak pada jumlah anggotanya, tetapi juga pada besarnya pasar, sumber daya, energi, modal, teknologi, dan pengetahuan yang dimiliki negara-negara anggotanya.

Karena itu, dia melihat peluang bagi BRICS untuk menghubungkan berbagai sumber daya tersebut guna menciptakan lebih banyak kesempatan bagi negara berkembang.

Salah satu bidang yang disoroti Prabowo adalah energi. Menurut dia, negara-negara BRICS perlu memperkuat konektivitas sistem energi dan keamanan energi untuk menjaga ketahanan ekonomi di kawasan.

"Bayangkan apa yang BRICS dapat capai jika kekuatan ini dimobilisasi untuk membantu menjaga makanan dan sumber energi," ujarnya.

Prabowo juga membawa isu reformasi tata kelola global ke forum tersebut. Dia menilai negara-negara Global South perlu memiliki suara lebih kuat dalam membentuk institusi yang mengatur dunia.

Menurutnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tetap harus berada di pusat sistem multilateral karena menjadi satu-satunya institusi global yang mempertemukan negara-negara dalam posisi yang setara.

Namun, Prabowo menilai PBB perlu direformasi agar lebih representatif, responsif, dan mampu menghasilkan keputusan yang berdampak nyata bagi masyarakat.

"Untuk PBB berada di tengah secara efektif, itu harus direformasi. PBB harus lebih representatif, lebih responsif, dan lebih mampu menghasilkan hasil konkret bagi rakyat kita," katanya.

Selain PBB, Prabowo menyoroti perlunya perubahan pada institusi keuangan internasional. Dia menilai sistem keuangan global harus lebih mampu menjawab kebutuhan negara-negara berkembang, termasuk melalui akses yang lebih besar terhadap sumber daya.

Baca Juga: Prabowo Bawa Spirit Bandung ke KTT BRICS, Serukan Persatuan Negara Global South

Baca Juga: Prabowo Bawa Agenda Ekonomi dan Perdagangan ke KTT BRICS

Baca Juga: Presiden Prabowo Tiba di India, Hadiri KTT ke-18 BRICS sebagai Anggota Penuh

Dia juga menegaskan bahwa kekuatan ekonomi dan keuangan tidak semestinya digunakan sebagai alat tekanan.

Prabowo menilai BRICS memiliki peran untuk memperkuat kapasitas negara-negara anggotanya sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan global. Mobilisasi sumber daya untuk infrastruktur dan pembangunan disebut dapat membantu negara berkembang menentukan masa depannya sendiri.

"Ini adalah kekuatan kolektif yang kita butuhkan. Kekuatan yang tidak tersisa di kertas, tetapi menerjemahkan menjadi kesempatan bagi rakyat kita," ujar Prabowo.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Annisa Nurfitri