Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dulu Dilarang, Kini Trump Persilakan China Bikin Mobil di AS dengan Syarat

Dulu Dilarang, Kini Trump Persilakan China Bikin Mobil di AS dengan Syarat Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai membuka peluang bagi produsen mobil asal China untuk membangun pabrik dan memproduksi kendaraan di Negeri Paman Sam. Sikap tersebut menjadi perubahan menarik di tengah kebijakan AS yang selama ini sangat ketat terhadap industri otomotif China.

Trump mengatakan dirinya tidak keberatan apabila produsen mobil China ingin masuk dan membangun fasilitas produksi di AS. Namun, ada syarat yang harus dipenuhi, yakni perusahaan China harus memproduksi kendaraan langsung di AS dan mempekerjakan tenaga kerja lokal.

"Jika China ingin masuk dan membuka pabrik untuk memproduksi mobil mereka di sini, saya tidak keberatan," kata Trump dalam wawancara dengan Fox News, dikutip dari NBC.

Trump kemudian mencontohkan produsen mobil Jepang yang telah lama membangun pabrik di AS dan mempekerjakan masyarakat setempat.

"Jepang sudah melakukannya, tapi mereka merekrut orang kita. Hal terpenting adalah mereka merekrut orang kita," ujarnya.

Trump juga menegaskan dirinya tidak ingin produsen China menjadikan Meksiko sebagai basis produksi untuk kemudian mengekspor kendaraan ke AS.

"Saya tidak meremehkan mobil-mobil Tiongkok," kata Trump.

Pernyataan tersebut menarik karena selama beberapa tahun terakhir AS justru memperketat akses kendaraan China ke pasar domestiknya.

Pemerintahan Joe Biden pada awal 2025 memberlakukan aturan yang secara efektif melarang produsen mobil China menjual dan memproduksi mobil penumpang di AS. Pemerintah AS juga menetapkan tarif lebih dari 100 persen terhadap kendaraan listrik asal China.

Di tengah kebijakan tersebut, industri otomotif AS masih berupaya mempertahankan pembatasan terhadap kendaraan China.

Aliansi untuk Inovasi Otomotif yang mewakili sejumlah produsen besar seperti General Motors, Ford, Toyota, Volkswagen, Hyundai, Honda dan Stellantis sebelumnya mendesak Kongres mengesahkan aturan yang secara permanen melarang kendaraan asal China masuk ke pasar AS.

Kelompok tersebut menilai produsen China berpotensi memberikan tekanan besar terhadap industri otomotif AS karena menawarkan kendaraan dengan dukungan teknologi, perangkat lunak, serta harga yang kompetitif.

CEO Alliance for Automotive Innovation John Bozzella mengatakan produsen mobil China saat ini tengah memperluas penetrasi mereka ke berbagai pasar global.

"Saat ini, produsen mobil Tiongkok sedang membanjiri pasar global dengan kendaraan bersubsidi yang dilengkapi perangkat lunak dan perangkat keras terhubung," kata Bozzella.

Sementara itu, muncul kekhawatiran di kalangan anggota Kongres bahwa Trump dapat memberikan akses lebih luas bagi kendaraan China sebagai bagian dari kesepakatan yang lebih besar dengan Beijing.

Senator Elissa Slotkin dari Partai Demokrat bahkan menyebut kemungkinan tersebut sebagai kesalahan strategis.

Baca Juga: 3 Bulan Berturut-turut Naik, Penjualan Mobil Listrik Mulai Tinggalkan Mobil Bensin?

Baca Juga: Ini 10 Mobil Listrik Terlaris Agustus 2026! BYD Atto 1 Ngacir, China Kuasai RI

Baca Juga: Mobil China Banjiri Pasar Mobil RI, Tapi Baru 3 Merek yang Punya Pabrik Sendiri

Trump membantah kabar tersebut dan menyebutnya sebagai "gosip palsu belaka". Ia juga mengatakan pemerintahannya selama ini telah mencegah masuknya kendaraan asal China ke AS.

Dengan pernyataan terbarunya, posisi Trump terhadap produsen China tampaknya tidak sepenuhnya berarti membuka pasar AS tanpa batas. Peluang tersebut lebih diarahkan pada investasi langsung di AS, dengan produksi dan tenaga kerja berada di dalam negeri.

Jika benar terealisasi, produsen China tidak hanya akan menghadapi persoalan tarif ketika ingin masuk ke pasar AS. Mereka juga harus mempertimbangkan pembangunan fasilitas produksi, rantai pasok, serta perekrutan tenaga kerja lokal.

Bagi produsen China, langkah tersebut sekaligus dapat menjadi jalan untuk mendekati pasar AS tanpa menjadikan Meksiko sebagai basis ekspor ke Negeri Paman Sam.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan