Kredit Foto: Istimewa
OpenAI mengungkap penggunaan agen pemrograman berbasis kecerdasan buatan (AI) oleh para penelitinya meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan, 10% pengguna dengan pemakaian tertinggi menghabiskan token senilai lebih dari US$7.000 atau sekitar Rp123,8 juta per hari.
Angka tersebut terungkap dalam unggahan blog OpenAI pada akhir pekan lalu. Perusahaan menyebut agen pemrograman memungkinkan peneliti menerapkan kode lebih cepat, memperbanyak eksperimen, serta menyerahkan pekerjaan teknis yang semakin kompleks kepada AI.
Rata-rata peneliti OpenAI pada pertengahan Agustus tercatat menggunakan token senilai lebih dari US$600 per hari. Angka tersebut meningkat hampir empat kali lipat dibandingkan Juli yang masih berada di kisaran US$162 per hari.
Sementara itu, kelompok 10% pengguna teratas mengonsumsi token senilai lebih dari US$7.000 setiap hari.
OpenAI menjelaskan nilai tersebut dihitung berdasarkan biaya inferensi melalui Application Programming Interface(API). Dengan demikian, angka itu merupakan estimasi berdasarkan tarif penggunaan API, bukan nilai pengeluaran aktual yang dibayarkan perusahaan.
Peningkatan penggunaan agen AI juga tercermin dari berkurangnya permintaan bantuan melalui saluran dukungan teknis internal. OpenAI menyebut jumlah pertanyaan yang masuk ke kanal dukungan teknis yang dikelola manusia turun lebih dari separuh sejak Januari.
Kondisi tersebut menunjukkan semakin banyak persoalan teknis yang dapat ditangani langsung menggunakan agen AI.
OpenAI juga menyebut telah mencapai target yang sebelumnya ditetapkan CEO Sam Altman, yakni mengembangkan “magang penelitian otonom” yang mampu menjalankan tugas dengan arahan manusia.
Perusahaan kini menargetkan pengembangan “peneliti AI sepenuhnya otonom” dan memperkirakan teknologi tersebut dapat tercapai pada Maret 2028.
Tren penggunaan agen AI tersebut turut mengubah pola kerja industri perangkat lunak. Sejumlah programmer mulai menyerahkan pekerjaan tertentu kepada agen AI dan mengalihkan fokus pada pemeriksaan hasil yang dihasilkan sistem.
Namun, penggunaan AI belum sepenuhnya menghilangkan kebutuhan terhadap tenaga manusia. Penelitian Workplace AI Research Institute (WAI) Glean bersama Universitas Notre Dame, Stanford, dan University of California Berkeley menemukan pekerja kantoran rata-rata menghabiskan 6,4 jam per minggu untuk memberikan konteks kepada AI, memeriksa hasil, memperbaiki kesalahan, serta menangani masalah yang muncul dari bot.
Aktivitas tersebut disebut sebagai bot caregiving, yakni pekerjaan pendampingan yang diperlukan agar sistem AI menghasilkan keluaran sesuai kebutuhan.
Kepala WAI Rebecca Hinds menyebut pekerjaan tersebut melelahkan, kurang dihargai, dan sulit diukur meski tetap diperlukan dalam penerapan AI di tempat kerja.
Baca Juga: OpenAI Batal IPO di 2026, Sam Altman Bilang Belum Saatnya Melantai
Baca Juga: Bos ChatGPT, Elon Musk, hingga Jeff Bezos, Inilah Orang-Orang Paling Berkuasa di Dunia AI
Di sisi lain, meningkatnya penggunaan agen pemrograman juga menimbulkan persoalan terkait biaya komputasi. Biaya token menjadi salah satu perhatian perusahaan ketika agen AI semakin banyak digunakan untuk pekerjaan sehari-hari.
Kondisi tersebut bahkan mulai memengaruhi keputusan perusahaan teknologi dalam memilih layanan AI. Microsoft, misalnya, dilaporkan mengurangi sebagian besar lisensi langsung Claude Code, agen pemrograman milik Anthropic, dan mendorong karyawan menggunakan GitHub Copilot CLI.
Salah satu faktor yang disebut melatarbelakangi keputusan tersebut adalah meningkatnya biaya penggunaan Claude Code seiring dengan bertambahnya jumlah pengguna.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: