Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Ditutup Melemah Tipis ke Rp17.696, Pasar Soroti Tantangan Menkeu Baru

Rupiah Ditutup Melemah Tipis ke Rp17.696, Pasar Soroti Tantangan Menkeu Baru Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Rabu (16/9/2926). Mata uang Garuda berada di level Rp17.696 atau melemah tipis 2 poin dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.694 per USD.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah dipicu kondisi sentimen dalam negeri. Pasar masih melihat perkembangan pasca pergantian menteri keuangan yang baru.

"Menteri Keuangan baru Suahasil Nazara menghadapi tantangan untuk menjaga dua kepentingan yang kerap berhadapan dalam kebijakan fiskal, guna mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mempertahankan disiplin dan kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," kata Ibrahim kepada wartawan.

Ibrahim menyebut, fokus yang lebih penting adalah mempertahankan kapasitas fiskal untuk mendorong pertumbuhan, sembari memastikan penggunaan instrumen fiskal berlangsung dengan aturan dan koordinasi yang jelas. 

"Kredibilitas fiskal memiliki nilai bukan semata karena neraca pemerintah terlihat sehat, melainkan karena kesehatan tersebut menciptakan ruang bagi pemerintah untuk bertindak ketika terjadi guncangan ekonomi," kata dia.

Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp17.730 di Awal Perdagangan

Baca Juga: Rupiah Ditutup Tertekan 25 Poin, Pasar Cermati Tantangan Fiskal Menkeu Baru Suahasil Nazara

Komitmen menjaga defisit APBN di bawah tiga persen terhadap produk domestik bruto (PDB) tetap penting untuk mempertahankan kepercayaan terhadap fiskal Indonesia. Namun, kondisi global yang masih ditandai mahalnya global duration dan permintaan domestik yang belum sepenuhnya kuat membutuhkan kehati-hatian dalam menentukan kecepatan konsolidasi. 

"Selain itu, tugas Menteri Keuangan baru bukan sekadar menentukan apakah kebijakan fiskal harus lebih ekspansif atau konservatif. Yang lebih penting adalah membangun aturan, urutan kebijakan, dan koordinasi antar lembaga yang memungkinkan fiskal tetap menjadi mesin pendukung pertumbuhan tanpa mengorbankan kredibilitas," jelas dia.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: