Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Ditutup Tertekan 25 Poin, Pasar Cermati Tantangan Fiskal Menkeu Baru Suahasil Nazara

Rupiah Ditutup Tertekan 25 Poin, Pasar Cermati Tantangan Fiskal Menkeu Baru Suahasil Nazara Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (15/9/2026). Mata uang Garuda terparkir Rp17.694 atau melemah 25 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp170.669 per USD.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah hari ini tidak lepas dari dinamika pergantian mentri keuangan. Pemerintah membutuhkan sosok yang mampu mengembalikan kepastian dan kredibilitas dalam pengelolaan fiskal serta memanfaatkan anggaran negara guna mendorong pertumbuhan. 

"Sosok yang cocok untuk mengganti posisi Purbaya Yudi Sadewa adalah Suhasil Nazara, sehingga beliau di lantik menjadi Menteri Keuangan yang baru. Penunjukannya akan memperkuat kepercayaan terhadap disiplin fiskal dan kerangka defisit di bawah 3%," kata dia dalam keterangannya kapda wartawan.

Akan tetapi, lanjut Suahasil, tantangan yang menunggu Suahasil sejatinya jauh lebih besar daripada sekadar menjaga angka defisit. Sebab, beliau harus mengelola APBN di tengah kebutuhan pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, membiayai program prioritas, menghadapi tekanan harga energi global, sekaligus mempertahankan kepercayaan investor terhadap kesehatan fiskal Indonesia. 

"Pemerintah memiliki ambisi pertumbuhan cukup tinggi. Dalam RAPBN 2027, pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 6%, sementara belanja negara mencapai Rp4.097,2 triliun," kata dia.

Baca Juga: Pergantian Purbaya Jadi Menkeu Dinilai Bisa Tekan Rupiah dan Saham

Baca Juga: Awal Perdagangan, Rupiah Dibuka Menguat Rp17.605 per USD

Pendapatan negara ditargetkan Rp3.426 triliun, sehingga pembiayaan mencapai Rp571,2 triliun dengan defisit 2,4% dari PDB. Angka-angka itu sebenarnya sudah menunjukkan dilema yang akan dihadapi Suahasil. 

Di satu sisi, pemerintah ingin menggunakan APBN sebagai mesin pertumbuhan sehingga belanja harus cukup besar untuk mendorong konsumsi, investasi, pembangunan infrastruktur, perlindungan sosial, serta berbagai program prioritas pemerintah.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: