Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Mixue Punya 2.000 Gerai di Indonesia, Kini Fokus Profit Tiap Toko

Mixue Punya 2.000 Gerai di Indonesia, Kini Fokus Profit Tiap Toko Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Jaringan waralaba F&B asal China, Mixue, mengubah fokus ekspansi bisnisnya di Indonesia. Setelah jaringan gerainya menjamur hingga sekitar 2.000 gerai, perusahaan kini tidak lagi semata mengejar penambahan toko, tetapi memastikan setiap gerai mampu menghasilkan keuntungan bagi mitra waralaba.

Director of Public Relations & Government Affairs Mixue Southeast Asia Region sekaligus Vice President Mixue Indonesia, Bing Shikuan, mengatakan Indonesia masih menjadi salah satu pasar terbesar Mixue setelah China. Perusahaan masih membuka peluang ekspansi hingga 3.000 gerai, tetapi pertumbuhan tersebut akan dilakukan dengan mempertimbangkan kualitas lokasi dan kinerja setiap gerai.

“Kita harus berfokus pada setiap kedai yang kita operasikan. Kita akan membiarkan setiap franchise, setiap kedai membuat uang sendiri,” ujar Bing dalam media gathering di Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Pernyataan tersebut menjadi perubahan penekanan dalam strategi bisnis Mixue setelah ekspansi jaringan yang sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Bing mengatakan jumlah gerai yang dibuka maupun ditutup dalam satu tahun bukan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan bisnis.

Menurut dia, sejumlah gerai Mixue memang telah ditutup. Namun, penutupan tersebut tidak selalu menunjukkan adanya persoalan bisnis karena sebagian dilakukan sebagai bagian dari strategi pemindahan lokasi ke area yang dinilai memiliki potensi pelanggan lebih besar.

“Beberapa gerai telah ditutup, kenapa? Karena sekarang kita lebih fokus pada kecepatan. Mungkin beberapa gerai, kita hanya mencoba untuk berpindah ke tempat yang lebih baik,” tuturnya.

2.000 Gerai di Indonesia

Secara global, Mixue telah memiliki sekitar 65.000 gerai di 17 negara hingga Juni 2026, dengan lebih dari 55.000 gerai berada di China. Indonesia menjadi pasar terbesar kedua dengan sekitar 2.000 gerai.

Dari jaringan tersebut, lebih dari 1.400 pengusaha lokal tercatat menjadi mitra waralaba Mixue. Perusahaan menyebut jaringan bisnisnya di Indonesia telah menyerap lebih dari 12.800 tenaga kerja, dengan lebih dari 96% di antaranya merupakan masyarakat lokal.

Bing mengatakan potensi pasar Indonesia masih menjadi pertimbangan utama perusahaan untuk melanjutkan pengembangan bisnis.

“Indonesia masih merupakan pasar terbesar di seluruh dunia setelah Cina. Setiap tahun, kita punya target pengembangan bisnis (di Indonesia), dan tujuan ini tidak akan berhenti,” katanya.

Namun, ekspansi selanjutnya akan disertai penguatan operasional, mulai dari sistem manajemen, pelatihan karyawan, pemasaran, pengembangan produk, rantai pasok hingga digitalisasi.

Supply Chain Jadi Penopang Ekspansi

Besarnya jaringan gerai juga membuat rantai pasok menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis Mixue. Bing menyebut supply chain merupakan salah satu kekuatan utama perusahaan, baik di Indonesia maupun secara global.

Mixue telah memiliki fasilitas produksi sendiri sejak 2012 dan mengembangkan sistem logistik sendiri sejak 2014. Di Indonesia, perusahaan juga memperkuat sistem gudang dan distribusi nasional untuk menopang kebutuhan jaringan gerainya.

Sebagian besar bahan baku utama produk Mixue masih berasal dari pabrik pusat di Zhengzhou, China. Meski demikian, perusahaan mulai melihat peluang untuk membangun fasilitas produksi bahan baku di Indonesia.

“Sebenarnya, kami memiliki rencana untuk membangun pabrik lokal di Indonesia, karena ada banyak bahan-bahan bagus lokal seperti kopi dan buah-buahan. Tapi semua ini masih perlu waktu,” kata Bing.

Mixue juga menerapkan sistem cold chain untuk menjaga kualitas bahan selama penyimpanan dan distribusi. Menurut perusahaan, harga produk yang terjangkau tetap perlu berjalan beriringan dengan konsistensi kualitas.

Strategi Mixue di Indonesia ke depan tidak hanya bertumpu pada seberapa cepat jumlah gerai bertambah, tetapi juga pada kemampuan setiap lokasi mencetak kinerja bisnis, efisiensi rantai pasok, serta keberlanjutan usaha mitra franchise.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: