Tekanan Geopolitik dan Geoekonomi Menguat, Wamenpar Yakin Pariwisata Tetap Tumbuh
Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
Pariwisata Indonesia dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan meski menghadapi tekanan geopolitik dan geoekonomi global sepanjang 2026.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan pertumbuhan pariwisata Indonesia tetap berlanjut dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, menurut dia, tantangan pemerintah tidak berhenti pada upaya mendatangkan wisatawan.
“Pariwisata Indonesia pasti akan tumbuh terus di tengah tekanan global. Sekarang kita lihat juga di tahun 2026, di tengah situasi geopolitik, geoekonomi yang luar biasa, tidak hanya menekan Indonesia, tapi juga negara-negara lain, pariwisata Indonesia masih tetap tumbuh dibandingkan dengan tahun 2025 yang lalu,” kata Ni Luh saat menghadiri JITEX 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Menurut Ni Luh, pemerintah perlu mendorong wisatawan agar tinggal lebih lama dan meningkatkan pengeluaran selama berada di Indonesia. Kualitas pengalaman wisatawan juga menjadi faktor penting untuk meningkatkan nilai ekonomi dari sektor pariwisata.
“Pekerjaan kita ini tidak berhenti pada bagaimana mendatangkan wisatawan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan lama tinggal wisatawan, bagaimana juga agar wisatawan ini belanjanya lebih banyak, meningkatkan spending dari wisatawan kita,” ujarnya.
Selain lama tinggal dan belanja wisatawan, pemerintah juga perlu memperkuat konektivitas serta melibatkan pelaku usaha lokal. Dengan demikian, pertumbuhan pariwisata diharapkan tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas kepada masyarakat.
Baca Juga: Wamenpar Ingin Jakarta Makin Dikenal sebagai Pusat Fashion Regional
Baca Juga: JITEX 2026 Resmi Dibuka, HIPPINDO Dorong Jakarta Jadi Hub Perdagangan dan Investasi Global
Baca Juga: ITDC Integrasikan Paket Wisata MotoGP 2026, Dorong Dampak Ekonomi Pariwisata Lombok
“Bagaimana kualitas pengalaman atau experience yang semakin baik bisa kita tawarkan kepada wisatawan, bagaimana juga konektivitas dan keterlibatan pelaku usaha lokal sehingga manfaat dari pariwisata itu betul-betul dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” kata Ni Luh.
Dalam konteks tersebut, Ni Luh menilai penyelenggaraan Jakarta International Investment, Trade, Tourism and SMEs Expo (JITEX) memiliki relevansi dengan pengembangan pariwisata karena mempertemukan sektor pariwisata dengan perdagangan, investasi, dan pelaku usaha lokal.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan