Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Targetkan E50, Prabowo Perintahkan Penyusunan Langkah Strategis Bauran Bioetanol

Targetkan E50, Prabowo Perintahkan Penyusunan Langkah Strategis Bauran Bioetanol Kredit Foto: BPMI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah mulai menyusun langkah strategis untuk mengembangkan bauran bahan bakar nabati menuju target E50 (campuran 50 persen etanol dalam bensin). Instruksi perencanaan tersebut disampaikan dalam Sidang Paripurna Dewan Energi Nasional (DEN) pertama pada tahun 2026 yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Perintah penyusunan langkah E50 ini menjadi arah baru dalam upaya menekan impor bensin nasional. Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mematangkan kajian untuk menerapkan bauran campuran etanol 10 persen (E10) pada 2027 sebagai tahap awal sebelum bergeser ke tingkat E20 di tahun 2028.

Melalui rapat malam ini, fokus perencanaan jangka panjang pemerintah kini diarahkan untuk mencapai target bauran yang lebih tinggi.

Menteri ESDM sekaligus Ketua Harian DEN, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa instruksi Presiden Prabowo untuk merancang kesiapan E50 ini berkaca pada evaluasi implementasi biodiesel berbasis kelapa sawit.

"Belajar berangkat dari ini, Bapak Presiden tadi memerintahkan untuk segera menyusun langkah-langkah yang sama untuk kita membangun E50," ujar Bahlil kepada wartawan.

Pengembangan program bioetanol secara bertahap ini bergulir di tengah konsumsi bensin nasional yang saat ini berada di kisaran 39 juta hingga 40 juta kiloliter (KL) per tahun.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, kapasitas produksi bensin dari kilang domestik tercatat sebesar 14,3 juta KL dan mendapat tambahan pasokan sebesar 5,5 juta KL setelah Kilang Balikpapan beroperasi penuh. Sisa defisit impor bensin nasional yang berada di kisaran 20 juta KL tersebut yang kini coba disubstitusi melalui program bauran bioetanol domestik.

Untuk mendukung kesiapan pasokan bahan baku, arah hilirisasi bioetanol nasional akan bertumpu pada tiga komoditas pertanian utama, yaitu tebu (molase), singkong, dan jagung. Merujuk pada kalkulasi awal kementerian untuk target antara seperti program E20 saja, kebutuhan bioetanol nasional diperkirakan mencapai sedikitnya 4 juta KL per tahun.

"Kita bikin etanol dengan bahan bakunya dari tebu, singkong dan jagung dengan total produksi yang diperlukan 4 juta kiloliter. Pemerintah akan menjadi off-taker produksi etanol yang dihasilkan petani," lanjutnya.

Selain itu, formula insentif harga juga sedang dimatangkan guna menjembatani disparitas (selisih) keekonomian antara bioetanol dan bensin fosil, dengan menjajaki skema pengelolaan dana yang menyerupai model pendanaan kelapa sawit (BPDPKS).

Genjot Eksplorasi Hulu dan Penataan 45.000 Sumur Rakyat

Di samping memacu bahan bakar nabati, Sidang Paripurna DEN juga menetapkan langkah agresif untuk menahan laju penurunan produksi (lifting) minyak bumi fosil domestik.

Pemerintah berkomitmen mengamankan ketahanan energi dengan mengombinasikan eksplorasi baru dan pemanfaatan teknologi.

"Kita akan mendorong eksplorasi besar-besaran terhadap cekungan-cekungan blok-blok minyak dan optimalisasi terhadap sumur-sumur yang sudah ada," ungkap Bahlil.

Selain itu, Presiden Prabowo secara khusus memerintahkan penataan terhadap 45.000 sumur rakyat di seluruh Indonesia agar ke depan dapat dikelola secara profesional serta menutup celah pelanggaran hukum maupun distribusi ilegal ke pihak luar.

Baca Juga: Bahlil Pastikan Kelembagaan BUK Migas Berada Langsung di Bawah Presiden

Baca Juga: Purbaya Sempat Blak-blakan Soal Banyak Pakar Ekonomi Gagal Paham dengan Strateginya

Sementara di sektor niaga domestik, Pemerintah juga mengevaluasi ketepatan sasaran penyaluran BBM bersubsidi guna menekan potensi pembengkakan anggaran negara.

Menjelang perumusan regulasi pembatasan distribusi lintas sektor, Bahlil menyampaikan imbauan moral agar kelompok masyarakat mampu atau pemilik kendaraan kelas atas tidak menggunakan BBM yang menjadi hak masyarakat kurang mampu.

"Saran saya kepada saudara-saudara saya yang mampu, yang mohon maaf mobilnya pakai BMW, mobil-mobil kelas tinggi, ya mohonlah kita pakai hati juga. Janganlah kita pakai BBM subsidi itu," pungkasnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra