Fenomena Maraknya Hotel di Bali Dijual, DPR Soroti Tiket Mahal hingga Infrastruktur
Kredit Foto: IHG
Anggota Komisi VII DPR RI Eva Monalisa menilai kesulitan usaha yang dialami sejumlah hotel di Bali hingga harus dijual tidak bisa dilihat hanya dari kondisi industri perhotelan. Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan ekosistem pariwisata secara keseluruhan, mulai dari sebaran wisatawan, infrastruktur, transportasi hingga keberadaan UMKM dan ekonomi kreatif.
“Jadi kita harus melihat wilayah mana yang sedikit wisatawannya dan mana yang banyak wisatawannya,” kata Eva, mengutip keterangan tertulis, Selasa (22/9/2026).
Eva mengatakan tingkat kunjungan wisatawan di Bali berbeda-beda di setiap wilayah. Sejumlah kawasan memiliki tingkat kunjungan yang tinggi dengan kapasitas hotel yang besar, sementara wilayah lainnya memiliki jumlah wisatawan yang relatif rendah.
Menurutnya, pemerintah perlu melihat penyebab rendahnya kunjungan di sejumlah wilayah, termasuk kondisi infrastruktur, akses menuju destinasi, serta daya tarik yang ditawarkan.
“Tidak bisa hanya melihat satu sisi, yaitu hotel. Kita harus melihat rangkaian dari pariwisata itu, ada infrastruktur, ada UMKM, termasuk kreativitas di wilayah tersebut yang menjadi daya tarik wisatawan,” ujarnya.
Eva juga meminta pemerintah memperhitungkan berbagai faktor eksternal yang dapat memengaruhi jumlah wisatawan ke Bali. Kondisi global, bencana, perubahan cuaca, hingga persoalan transportasi dinilai dapat memberikan dampak terhadap aktivitas pariwisata.
Menurutnya, harga tiket pesawat juga perlu menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan akses wisatawan menuju destinasi.
“Apakah itu juga mengenai biaya tiket yang mahal? Nah, itu juga harus kita lihat. Jadi terkait dengan transportasi juga,” kata Eva.
Eva menilai tekanan terhadap bisnis hotel di Bali perlu dikaji secara menyeluruh agar pemerintah tidak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan kondisi satu sektor. Ia mendorong adanya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian terkait, pelaku usaha, dan masyarakat.
Menurut Eva, kebijakan pariwisata juga tidak cukup hanya mengandalkan Kementerian Pariwisata. Persoalan transportasi, regulasi, infrastruktur, akses menuju destinasi, pengembangan UMKM, hingga ekonomi kreatif perlu ditangani secara terpadu.
“Kita tidak bisa melihat dari satu sisi. Kita harus melihat semua faktor, mulai dari wisata, regulasi transportasi, infrastruktur, jangkauan ke sana, UMKM, juga kreativitas di wilayah itu apakah menarik bagi wisatawan,” pungkasnya.
Baca Juga: Harga Avtur Naik, Harga Tiket Pesawat Bakal Naik Lagi
Sebelumnya, ratusan hotel dan vila di Bali terpantau ditawarkan untuk dijual melalui platform jual beli properti daring dengan harga mencapai ratusan miliar rupiah.
Terdapat 524 iklan properti dengan kata kunci hotel di Bali. Dari jumlah tersebut, sebanyak 244 iklan merupakan hotel dan vila yang ditawarkan kepada calon pembeli.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Syarief Muhammad Syafiq
Editor: Annisa Nurfitri