Survei Ipsos: Publik Ingin Bank Digital Praktis dan Cepat, Bukan Sekadar Bisa Transaksi
Kredit Foto: Antara/Antara
Perkembangan transaksi digital lokal semakin menunjukkan bahwa layanan perbankan berbasis aplikasi bukan lagi sekadar pilihan tambahan. Masyarakat mulai menuntut pengalaman transaksi yang lebih praktis, cepat, stabil, dan mudah digunakan dalam aktivitas finansial sehari-hari.
Survei Ipsos Indonesia memperlihatkan bahwa kemudahan dan kecepatan transaksi menjadi salah satu faktor paling penting bagi masyarakat ketika menggunakan layanan bank digital. Sebanyak 71 persen responden menyebut proses transaksi yang mudah dan cepat sebagai faktor utama yang mendorong penggunaan aplikasi bank digital.
Baca Juga: Tembus 3,9 Juta Nasabah, Bank Aladin Syariah Terus Perkuat Kapabilitas Digital
Angka tersebut menunjukkan bahwa kemampuan sebuah aplikasi perbankan untuk menyelesaikan transaksi secara cepat menjadi bagian penting dari pengalaman pengguna. Bank digital tidak cukup hanya menyediakan layanan secara daring, tetapi juga dituntut mampu memberikan proses yang sederhana tanpa membuat pengguna melewati tahapan yang rumit.
Kebutuhan tersebut hadir seiring dengan semakin masifnya aktivitas pembayaran digital di Indonesia.
Data Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,50 miliar transaksi pada Juli 2026. Angka tersebut tumbuh 28,69 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).
Pertumbuhan juga terjadi pada transaksi melalui internet dan aplikasi mobile, masing-masing sebesar 9,39 persen dan 24,25 persen secara tahunan. Sementara transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) bahkan melonjak 82,42 persen yoy, seiring bertambahnya jumlah pengguna dan merchant.
Survei Ipsos menunjukkan masyarakat tidak hanya mengejar kecepatan. Kelengkapan produk dan fitur transaksi juga menjadi pertimbangan penting ketika memilih layanan bank digital.
Sebanyak 66 persen responden mempertimbangkan kelengkapan produk dan fitur transaksi yang tersedia dalam aplikasi. Sementara itu, 61 persen responden menilai aplikasi yang mudah digunakan menjadi faktor penting.
Kemudian, 57 persen responden menyebut proses pembukaan rekening yang sederhana sebagai salah satu alasan yang mendorong penggunaan aplikasi bank digital.
Rangkaian angka tersebut memperlihatkan adanya pola kebutuhan yang cukup jelas. Konsumen menginginkan layanan perbankan yang tidak hanya dapat diakses melalui ponsel, tetapi juga mampu mengurangi hambatan dalam setiap tahapan transaksi.
Managing Director Ipsos Indonesia Hansal Savla mengatakan pengalaman masyarakat dalam menggunakan aplikasi bank digital kini mencakup semakin banyak aspek.
Mulai dari kecepatan transaksi, stabilitas sistem, tampilan antarmuka, hingga kelancaran proses ketika digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
"Seiring semakin terintegrasinya bank digital dengan aktivitas finansial sehari-hari, pengguna bank digital tidak hanya membutuhkan akses terhadap layanan perbankan secara digital, tetapi juga pengalaman yang mudah, cepat, stabil, dan dapat diandalkan," kata Hansal di Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Survei Ipsos tersebut dilakukan pada April 2026 melalui metode online menggunakan panel digital Ipsos. Penelitian melibatkan 300 responden berusia 18-55 tahun dari berbagai latar belakang sosial ekonomi di seluruh Indonesia.
Responden berasal dari wilayah Jabodetabek, Jawa non-Jabodetabek, dan luar Jawa, dengan komposisi pria dan wanita.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa persepsi mengenai performa dan keandalan aplikasi menjadi salah satu aspek yang diperhatikan konsumen.
Pada atribut kelancaran dan kecepatan respons aplikasi ketika memproses transaksi, SeaBank memperoleh persepsi positif tertinggi dengan 67 persen. Posisi berikutnya ditempati Bank Jago sebesar 54 persen dan Neobank 42 persen.
Sementara pada atribut stabilitas aplikasi dengan minim gangguan, SeaBank kembali berada di posisi teratas dengan 66 persen, disusul Bank Jago 51 persen dan Superbank 47 persen.
Untuk atribut performa transaksi, posisi berikutnya ditempati Superbank dengan 39 persen dan Allo Bank 29 persen. Sedangkan untuk stabilitas aplikasi, Neobank mencatat 43 persen dan Allo Bank 26 persen.
Menurut Hansal, preferensi masyarakat terhadap layanan bank digital akan terus berubah mengikuti semakin beragamnya kebutuhan transaksi.
"Ketika aplikasi menjadi bagian dari aktivitas finansial yang semakin rutin, pengalaman yang mudah, cepat, stabil, dan dapat diandalkan menjadi semakin relevan dalam membangun pengalaman konsumen terhadap layanan digital banking," ujarnya.
Baca Juga: Perbankan Nasional Masih Solid, BI: NPL Berada di Level 2,1%
Dengan pertumbuhan transaksi digital yang terus meningkat, persaingan bank digital pun tidak lagi semata-mata mengenai siapa yang memiliki aplikasi. Tantangan berikutnya adalah siapa yang mampu menghadirkan pengalaman perbankan yang benar-benar sederhana dan cepat ketika digunakan masyarakat setiap hari.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: