Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

DPR Sebut PLTN Bisa Jadi Solusi Pasokan Energi Bersih untuk Data Center

DPR Sebut PLTN Bisa Jadi Solusi Pasokan Energi Bersih untuk Data Center Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Anggota Komisi XII DPR, Eddy Soeparno, menyebut pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dapat menjadi salah satu opsi untuk menopang kebutuhan energi industri data center di Indonesia.

Menurut Eddy, industri data center membutuhkan pasokan listrik dengan dua karakteristik utama, yakni berasal dari sumber energi bersih serta mampu menyuplai listrik secara stabil selama 24 jam atau baseload. Kebutuhan tersebut dinilai sejalan dengan karakteristik energi nuklir.

"Memang banyak data center dikembangkan dan mereka mensyaratkan dua hal. Pertama, baseload energinya, jadi harus bisa tersedia 24 jam. Kedua, sumber energinya harus terbarukan dan bersih. Sehingga kita memang harus melihat sumber energi terbarukan bersih yang sifatnya 24 jam. Apa itu? Ya misalnya nuklir yang tadi saya sampaikan," ujar Eddy saat ditemui selepas sesi diskusi yang digelar oleh Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), Kamis (1/10).

Wakil Ketua MPR tersebut mengatakan pemanfaatan energi nuklir menjadi hal yang perlu diperhatikan apabila Indonesia ingin meningkatkan daya saing dalam menarik investasi data center.

"Kita sudah tidak bisa lagi berpikir tidak menggunakan nuklir karena menurut saya nuklir itu adalah sebuah keniscayaan. Saat ini, nuklir yang sebelumnya tidak pernah dilihat sebagai sumber pengembangan energi yang sifatnya preferen atau diutamakan, sekarang mendadak menjadi naik," imbuhnya.

Eddy menyebut perkembangan proyek nuklir di berbagai negara menunjukkan adanya peningkatan perhatian terhadap sumber energi tersebut. Ia mencatat terdapat sekitar 64 proyek nuklir di seluruh dunia dengan total kapasitas mencapai 72 Gigawatt (GW).

Menurut dia, perkembangan tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah agar Indonesia tidak tertinggal dalam persaingan global, termasuk dalam upaya menarik investasi industri data center.

"Sekarang ini ada sekitar 64 proyek nuklir di seluruh dunia dengan kapasitas 72 GW. Kalau itu beroperasi, akan menyebabkan persaingan untuk penempatan data center terjadi di seluruh dunia," lanjut Eddy.

Sebelumnya, Direktur Teknologi, Teknik, dan Keberlanjutan PT PLN (Persero) Edwin Nugraha Putra mengatakan pihaknya berharap proses pelelangan (tender) proyek nuklir dapat dimulai pada awal Januari 2027.

Percepatan tahapan tersebut diperlukan karena pembangunan pembangkit nuklir memiliki waktu pengerjaan yang jauh lebih panjang dibandingkan pembangkit konvensional.

Baca Juga: Konsisten Tingkatkan Kualitas Layanan, CC PLN 123 Raih Penghargaan di TBCCI 2026

Baca Juga: Target Tender PLTN di 2027, PLN Soroti Keberadaan Badan Independen

"Sehingga nanti diharapkan pada awal Januari 2027 sudah bisa dimulai pelelangan dari nuklir ini," ujar Edwin dalam paparannya pada Energy Week 2026 di Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Edwin menjelaskan pembangunan pembangkit nuklir tidak dapat dilakukan secepat pembangkit berbasis gas maupun batu bara. Menurut dia, proyek nuklir membutuhkan rangkaian proses panjang, mulai dari kajian kelayakan, proses pelelangan, pendanaan, konstruksi, hingga tahap pengoperasian.

"Pembangunan untuk nuklir tersebut tidak bisa seperti gas atau PLTU yang hanya membutuhkan waktu 5 sampai 7 tahun. Ini memerlukan waktu 10, 12, bahkan 15 tahun," jelasnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra