Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Genjot Devisa Negara, Menteri Ekraf Tekankan Pentingnya Penguatan Kekayaan Intelektual

Genjot Devisa Negara, Menteri Ekraf Tekankan Pentingnya Penguatan Kekayaan Intelektual Kredit Foto: Kementerian Ekraf
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya menekankan pentingnya penguatan kekayaan intelektual (Intellectual Property/ IP) sebagai instrumen soft diplomacy dan pendorong pundi - pundi devisa negara.

“Memperkuat hal tersebut, akan hadir World Conference on Creative Economy (WCCE) karena ekraf ditugaskan pemerintah sebagai soft diplomacy. Jadi, tidak hanya seni budayanya yang kita bawa keluar, tetapi juga IP dari ekonomi kreatifnya supaya memberikan nilai ekonomi yang menambah devisa negara,” ujar Teuku Riefky saat Forum Redaksi & Aspirasi Media Ekraf (FRAME) di Jakarta, Rabu malam (30/9/2026).

Adapun Indonesia dijadwalkan kembali menjadi tuan rumah The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) pada tahun 2026. Forum tingkat dunia ini menargetkan lahirnya Jakarta Vision on Creative Economy sekaligus mengarusutamakan agenda ekonomi kreatif dalam pembangunan global pasca-SDG 2030 melalui diplomasi serta kolaborasi internasional.

Dalam kesempatan yang sama, Wamen Ekraf Irene Umar menambahkan bahwa penyelenggaraan WCCE 2026 mengedepankan pendekatan heksaheliks serta strategi desentralisasi lokasi. Indonesia mencatatkan diri sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara yang mengimplementasikan pendekatan heksaheliks secara penuh, sehingga para delegasi internasional dapat menyaksikan secara langsung dinamika utuh ekosistem kreatif Indonesia.

“WCCE ini adalah untuk membawa resolusi ini ke United Nations, selain itu, ini menjadi ajang di mana stakeholders akan berkumpul bersama dari government hingga bisnis. Terlebih lagi WCCE bukan hanya ada plenary meeting tapi juga ada G2G meeting,” jelas Wamen Ekraf.

Sebagai informasi, FRAME merupakan wadah menyatukan gagasan serta memperkuat pemahaman media terhadap arah kebijakan dan program prioritas pengembangan ekonomi kreatif nasional. Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, menjelaskan bahwa kehadiran FRAME menjadi pijakan penting untuk mempererat hubungan dengan insan media sekaligus menyelaraskan agenda kementerian dengan mandat Asta Cita.

Baca Juga: Minta Kesuksesan Blok M Ditiru, Rano Karno Bidik Pemerataan Ekonomi Kreatif di Seluruh Jakarta

“Acara ini bertujuan untuk media dan Kementerian Ekraf agar semakin dekat,  juga untuk mengenalkan lebih dalam tentang penugasan yang diberikan kepada kementerian ini, serta apa yang sedang dan akan kami lakukan. Selaras dengan Asta Cita, Ekraf sebetulnya berkontribusi dalam hal lapangan kerja untuk generasi muda dan menopang kelas menengah,” kata Menteri Ekraf.

Mengambil tema United in Ideas, Empowering The Creative Economy, FRAME yang dihadiri 30 pimpinan media nasional ini membahas sektor ekonomi kreatif yang terus membuktikan peran vitalnya terhadap perekonomian nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif berhasil menembus Rp1.757,87 triliun dengan pertumbuhan mencapai 6,86% atau melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11% dan melampaui target RPJMN 2025 hingga 124%. Sektor ini juga menjadi penyerap utama tenaga kerja yang didominasi oleh generasi muda, yakni Millennial (36,63%) dan Gen Z (26,40%).

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Fajar Sulaiman
Editor: Fajar Sulaiman