Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

PLN Buka Keran Swasta Besar-besaran, 262 Proyek PLTA dan PLTM Siap Digarap hingga 2034

PLN Buka Keran Swasta Besar-besaran, 262 Proyek PLTA dan PLTM Siap Digarap hingga 2034 Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT PLN (Persero) membuka ruang besar bagi pengembang swasta untuk membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM) hingga 2034. Langkah ini dilakukan untuk mengejar target pengembangan energi terbarukan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.

Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN Suroso Isnandar mengatakan total terdapat 315 proyek PLTA dan PLTM dengan kapasitas mencapai 11.689,99 megawatt (MW) atau sekitar 11,7 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, mayoritas proyek akan dikerjakan oleh pengembang swasta atau Independent Power Producer (IPP).

"IPP akan memegang peran yang sangat besar, lebih besar dari peran PLN maupun subholding," kata Suroso dalam Indonesia Hydropower Summit yang digelar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) di Kantor Pusat PLN, Jakarta Selatan, Rabu (5/8).

Untuk proyek PLTA, pengembang swasta memperoleh porsi kapasitas sebesar 9.441 MW yang tersebar dalam 48 proyek. Sementara proyek PLTM yang dikerjakan swasta mencapai 214 proyek dengan kapasitas 1.110,16 MW.

Secara keseluruhan, pengembang swasta akan menangani 262 proyek pembangkit hidro. Sementara PLN hanya mengembangkan tujuh proyek PLTA berkapasitas 361 MW dan 20 proyek PLTM berkapasitas 51,15 MW.

Subholding PLN juga mendapat bagian dalam pengembangan pembangkit hidro. Porsinya mencakup 17 proyek PLTA berkapasitas 698,1 MW dan sembilan proyek PLTM dengan kapasitas 28,58 MW.

Suroso menilai kolaborasi dengan sektor swasta menjadi kunci agar target pembangunan pembangkit hidro dapat direalisasikan. Menurutnya, PLN akan lebih berfokus menyiapkan jaringan transmisi untuk menyalurkan listrik dari pembangkit ke sistem kelistrikan nasional.

"Sehingga, pola pikir yang harus diubah adalah harus bisa mengubah rencana yang sangat baik ini menjadi proyek yang benar-benar beroperasi, itu tidak dapat kita lakukan sendiri. Kolaborasi menjadi sebuah kunci," ujar Suroso.

Ia juga mengapresiasi para pengembang swasta yang tetap bertahan menjalankan proyek meski prosesnya memakan waktu panjang. Pengembangan PLTA dan PLTM harus melewati berbagai tahapan mulai dari studi kelayakan, perizinan, lelang, pembahasan Power Purchase Agreement (PPA), hingga financial closing.

Baca Juga: PLN Obral Diskon 50% Tambah Daya Listrik Hingga 7.700 VA di GIIAS 2026

Menurut Suroso, perubahan regulasi dari waktu ke waktu juga menjadi tantangan yang membuat proses pengembangan proyek semakin panjang. Meski demikian, ia menilai hasil yang diperoleh akan sepadan karena proyek pembangkit hidro memiliki kontrak jangka panjang.

"Terus terang, saya sangat salut sekali kepada para rekan-rekan pengembang. Nafasnya bisa panjang untuk bisa jadi. Tentu saja memang hasilnya akan sangat sepadan karena merupakan kontrak jangka panjang," ujar Suroso.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy