Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Karena itu, Pemprov Jabar menggabungkan pendekatan technology engineering dengan social engineering. Teknologi digunakan untuk memperkuat kapasitas pengolahan, sedangkan perubahan perilaku didorong melalui edukasi dan pendampingan langsung.
Strategi tersebut juga berkaitan dengan upaya memperpanjang masa operasional TPA Sarimukti. Pemprov Jabar sebelumnya menargetkan Sarimukti dapat bertahan hingga Desember 2029 sebelum fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di Legok Nangka beroperasi penuh. Namun, kondisi kapasitas Sarimukti saat ini menjadi perhatian karena zona perluasan berpotensi penuh lebih cepat.
Herman menegaskan penanganan sampah tidak dapat terus bergantung pada pola angkut dan buang ke TPA. Pengurangan dari sumber menjadi penting karena tekanan terhadap fasilitas hilir akan semakin besar apabila volume sampah terus meningkat.
“Tidak bisa kita main angkut-angkut terus tanpa penanganan komprehensif. Saatnya ada peran serta masyarakat dan semua komponen,” tegasnya.
Langkah Pemprov Jabar tersebut sejalan dengan pembahasan Ranperda Prakarsa tentang Pemberdayaan Komunitas dalam Pengelolaan Sampah yang disampaikan Komisi IV DPRD Jawa Barat dalam rapat paripurna.
Anggota Komisi IV DPRD Jabar Fikri Hudi Oktiarwan mengatakan persoalan sampah membutuhkan perubahan pendekatan dari sistem yang terlalu berorientasi pada pembuangan akhir menuju pengurangan dan pengolahan sejak dari sumber.
Menurutnya, pemberdayaan komunitas dapat menempatkan masyarakat sebagai aktor dalam proses pengurangan, pemilahan, pemanfaatan hingga pengolahan sampah.
Baca Juga: DPRD Jabar Bahas Wacana SPP Bayar Lagi, Dedi Mulyadi: Kalau Masih Ada Pungutan Kami akan...
“Model ini berpotensi meningkatkan efisiensi pengelolaan, mereduksi beban TPA secara signifikan, dan menciptakan nilai ekonomi sirkular melalui kegiatan daur ulang,” katanya.
DPRD Jabar menilai regulasi khusus diperlukan untuk memperkuat posisi komunitas sebagai mitra pemerintah daerah. Dukungan tersebut mencakup peningkatan kapasitas, kelembagaan, akses pendanaan, sarana-prasarana serta kemitraan dengan dunia usaha dan perguruan tinggi.
Ia menambahkan keterlibatan 25.000 lebih mahasiswa tidak hanya diarahkan sebagai program pendidikan, tetapi menjadi bagian dari strategi pengurangan sampah dari hulu.
"Pemerintah berharap perubahan perilaku masyarakat dapat mengurangi volume sampah yang dikirim ke Sarimukti sekaligus memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas di Jawa Barat.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: