Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi membuka peluang usaha di sektor pangan dan pertanian melalui peningkatan kebutuhan bahan baku, mulai dari ayam, telur, hingga sayuran.
Ketua Umum Kadin Anindya Bakrie mengatakan manfaat program tersebut tidak hanya dirasakan masyarakat penerima, tetapi juga pelaku usaha yang memasok kebutuhan pangan untuk pelaksanaan MBG.
“Nah, kami melihat manfaatnya untuk tentunya penerima, tapi juga bagi penyedia, bagi pengusahanya,” ujar Anindya saat ditemui di Kantor Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Sabtu (10/10/2026).
Menurut Anindya, kebutuhan bahan pangan untuk MBG dapat membuka peluang bagi pelaku usaha di sektor pertanian dan rantai pasok pangan. Permintaan tersebut mencakup berbagai komoditas yang diproduksi petani, peternak, dan pemasok pangan.
“Bisa bayangkan bukan saja paha ayam, tapi telur, sayur, dan lain-lain,” katanya.
Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, Anindya menyebut Kadin telah membentuk sejumlah satuan tugas, termasuk yang berkaitan dengan MBG. Langkah ini menjadi bagian dari dukungan Kadin terhadap program pemerintah dan upaya mendorong keterlibatan dunia usaha.
Selain MBG, Kadin juga mendukung program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP). Anindya berharap program tersebut dapat mendekatkan distribusi manfaat ekonomi kepada masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan pada perantara.
“Juga kami mendukung KDMP, karena memang kalau bisa langsung kepada masyarakat, mengurangi tentunya tanda kutip middleman,” ujarnya.
Di luar program pemerintah tersebut, Anindya mengatakan Kadin berfokus mendorong peningkatan ekspor, penarikan investasi, dan pertumbuhan konsumsi domestik untuk memperkuat perekonomian nasional.
Menurutnya, pertumbuhan dunia usaha perlu ditingkatkan agar semakin banyak pelaku usaha berkembang dan berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja.
Anindya menyebut Indonesia membutuhkan sekitar empat juta tenaga kerja setiap tahun. Karena itu, pertambahan jumlah pelaku usaha dinilai penting untuk mendukung penyerapan tenaga kerja.
"Dan tentu kita membutuhkan pertumbuhan yang lebih banyak lagi, karena tentu membutuhkan empat juta tenaga kerja setiap tahunnya, dan juga tentunya para pelaku usaha harus lebih bertambah," tutupnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri