Dedi Mulyadi Puji Adab Gibran: Punya Tata Krama yang Baik dan Hormat saat Berhadapan dengan Tokoh yang Lebih Tua
Kredit Foto: Ist
Sebuah video lawas yang menampilkan analisis politik dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali menyedot perhatian publik setelah diunggah ulang oleh Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Bestari Barus.
Dalam video tersebut, Dedi melontarkan peringatan keras kepada para elite politik agar berhati-hati dan tidak underestimate atau meremehkan kapabilitas Gibran Rakabuming Raka.
Sebelum membedah kekuatan Gibran, Dedi terlebih dahulu menyoroti rekam jejak mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Menurutnya, Jokowi yang di awal kariernya kerap diremehkan dan diprediksi menjadi presiden terlemah, justru sukses membalikkan seluruh analisis tersebut.
Berbekal pengalamannya memimpin daerah dan kemampuannya merangkul aparat serta elemen masyarakat, Jokowi dinilai bertransformasi menjadi salah satu presiden dengan kendali politik terkuat dalam sejarah Indonesia.
Bercermin dari kepiawaian sang ayah, Dedi membeberkan tiga kekuatan utama yang tertanam dalam diri Gibran yang membuatnya berpotensi mendisrupsi peta perpolitikan nasional:
Penguasaan Teknologi dan Komunikasi Digital: Usia muda Gibran dinilai sebagai senjata yang mematikan bagi lawan politik. "Gibran memiliki literasi digital yang jauh melampaui para politisi senior. Ia piawai membaca tren media sosial, mendesain narasi, dan melahirkan celetukan unik yang secara cepat mampu menguasai perbincangan publik dan menjadi viral," kata Dedi.
Adab dan Karakter Kultural yang Kuat: Sebagai anak yang dididik dalam tradisi Jawa kental, Gibran memiliki penguasaan tata krama yang baik. Hal ini tercermin dari ketenangannya, kemampuannya mengendalikan emosi, serta gestur hormat yang selalu ditunjukkan saat berhadapan dengan tokoh yang lebih tua.
Kedalaman Spiritual dan Keprihatinan: Gibran diyakini telah ditempa oleh didikan spiritual keluarganya melalui tradisi keprihatinan, seperti rutinitas berpuasa dan kedisiplinan menjaga laku hidup. Aspek ini dinilai membentuk mentalitas dan kedalaman strategi yang tidak kasat mata.
Di akhir analisisnya, Dedi menegaskan bahwa Gibran bukanlah sosok yang bisa disamakan dengan politisi pada umumnya yang kerap hanya mengandalkan retorika.
"Hati-hati terhadap Mas Gibran. Yang lain politisinya polos-polos, bersikap hanya dengan kata-katanya, tapi tidak dengan rasanya," pungkas Dedi mengingatkan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: