Buyback Jumbo Rp1 Triliun, BTPN Syariah Tetap Harus Jaga Likuiditas
Kredit Foto: Ist
PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) berencana melakukan pembelian kembali saham atau buyback dengan menyiapkan dana hingga Rp1 triliun. Aksi korporasi ini menjadi bentuk keyakinan manajemen terhadap kondisi keuangan dan prospek bisnis perseroan dalam jangka panjang.
Direktur BTPN Syariah Arief Ismail mengatakan, rencana buyback didukung oleh kondisi permodalan perseroan yang kuat. Dengan demikian, perusahaan tetap memiliki ruang untuk mengembangkan bisnis utama meski mengalokasikan dana untuk pembelian kembali saham.
“Rencana aksi korporasi tersebut merupakan bentuk keyakinan kami terhadap kekuatan fundamental, dan prospek jangka panjang BTPN Syariah. Dengan kondisi permodalan kuat, kami tetap memiliki kapasitas untuk menjalankan strategi pertumbuhan sekaligus menciptakan nilai optimal bagi para pemegang saham,” ujar Arief dalam keterangan resminya, seperti diberitakan Rabu (14/10/2026).
Arief menegaskan, pelaksanaan buyback akan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance), serta kepatuhan terhadap aturan bursa. Perseroan juga akan menyesuaikan pembelian saham dengan kebutuhan likuiditas dan komitmen pembiayaan, khususnya di segmen mass market.
Baca Juga: Spin Off Fiber Jalan, Telkom Siapkan Buyback Saham Rp2.290
Baca Juga: Picu Keyakinan Pasar, United Tractors (UNTR) Siapkan Rp2 Triliun untuk Buyback Saham
Rencana tersebut sejalan dengan kinerja keuangan BTPN Syariah yang positif pada semester I-2026. Selama enam bulan pertama tahun ini, perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp655 miliar.
Dari sisi neraca, total aset BTPS tumbuh 8% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp23 triliun. Sementara itu, penyaluran pembiayaan meningkat 9% YoY menjadi Rp11 triliun hingga akhir Juni 2026.
Kinerja tersebut turut didukung oleh rasio profitabilitas dan permodalan yang kuat. BTPN Syariah mencatatkan tingkat pengembalian aset (return on assets/RoA) sebesar 7,2% dan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 58,7%.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan